Siswa 14 Tahun Tembak Mati 8 Orang di Nonthaburi Thailand
Seorang siswa berusia 14 tahun melepaskan tembakan di Sekolah Debsirin Nonthaburi, Thailand, pada Jumat (7/8/2026). Aksi brutal tersebut menewaskan sedikitnya delapan orang, termasuk pelaku yang mengakhiri hidupnya sendiri di lokasi kejadian.
Kepolisian Kerajaan Thailand mencatat korban tewas meliputi lima guru di sekolah, kakek dan nenek pelaku, serta seorang pelajar. Selain itu, setidaknya 23 orang lainnya mengalami luka-luka dalam peristiwa tragis di kawasan pinggiran Bangkok ini.
Aksi penembakan bermula ketika pelaku menembak mati kakeknya yang berusia 73 tahun dan neneknya yang berusia 74 tahun di kediaman mereka sekitar pukul 05.00 waktu setempat. Senjata yang digunakan merupakan pistol kaliber 9 mm milik sang kakek.
Pelaku kemudian berangkat ke sekolah menggunakan bus sambil membawa senjata dan puluhan butir peluru. Setelah mengikuti dua jam pelajaran pertama, remaja tersebut mulai menembaki para guru di lantai enam sekitar pertengahan jam pelajaran kedua.
Insiden ini menambah daftar panjang kasus penembakan massal di Thailand. Data Small Arms Survey mencatat terdapat sekitar 10,3 juta pucuk senjata api yang dikuasai warga sipil di negara tersebut, dengan empat juta di antaranya disinyalir merupakan senjata ilegal.
Saksi mata di lokasi kejadian menggambarkan suasana mencekam saat penembakan berlangsung di area sekolah yang menampung sekitar 3.100 siswa tersebut.
"Saya tidak mengira itu suara tembakan pada awalnya," kata seorang siswa kepada Reuters.
Suara letusan senjata yang beruntun membuat para siswa dan staf sekolah panik hingga berupaya melarikan diri dengan memanjat pagar.
"Terdengar banyak letusan, 'dor dor dor'. Lalu suasananya hening. Setelah itu suara tembakan terdengar lagi," kata seorang siswa berusia 18 tahun kepada Reuters.
Sejumlah siswa dan staf sekolah berkumpul di luar area gedung dalam kondisi syok usai berhasil dievakuasi oleh petugas penyelamat.
"Saya sedang berdiri di depan guru ketika beliau ditembak. Saat itu beliau sedang berbicara dengan saya ketika pelaku datang dan menembaknya," kata seorang siswi kelas 8 kepada BBC News.
Siswi tersebut menceritakan keputusasaannya saat berupaya menyelamatkan diri bersama rekan-rekannya di tengah situasi mencekam.
"Saya tidak bisa melihat apa-apa selain kepulan debu. Dia berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain. Meja saya sangat dekat dengan posisi guru. Saya terpaksa memanjat pagar sekolah untuk melarikan diri bersama teman-teman lain," kata siswi kelas 8 tersebut kepada BBC News.
Rasa takut juga diungkapkan oleh murid lain yang bersembunyi saat pelaku beraksi di lantai atas.
"Saya takut akan mati, dan saya takut saya tak bisa mengejar mimpi saya," kata Pawarisa Maylissa, seorang siswa yang selamat, kepada AFP.
Pawarisa menjelaskan bagaimana letusan senjata terdengar sangat dekat dari posisi tempatnya berlindung.
"Saya mendengar suara tembakan sangat keras karena pelaku seperti berada di lantai atas kami. Saya juga mendengar peluru menghantam lantai," kata Pawarisa Maylissa kepada AFP.
Duka mendalam dirasakan oleh keluarga korban dan warga di wilayah Nonthaburi atas peristiwa mematikan di lingkungan pendidikan tersebut.
"Hal ini seharusnya tidak terjadi," kata pacar salah satu guru yang tewas kepada wartawan.
Menanggapi tragedi ini, pemerintah Thailand menegaskan bakal memperketat aturan kepemilikan senjata api bagi masyarakat umum guna mencegah kejadian serupa berulang.
"Undang-undang baru ini nantinya hanya akan mengizinkan pejabat pemerintah yang sedang bertugas untuk membawa senjata api," kata Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul kepada Reuters.
Anutin menyampaikan rasa prihatin mendalam atas insiden berdarah yang mengguncang institusi pendidikan di negaranya.
"Saya tidak hanya merasa sedih terhadap para korban, tetapi juga sedih karena peristiwa ini bisa terjadi. Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi di negara kita?" kata Anutin Charnvirakul.
Penyelidikan polisi mengungkap bahwa pelaku diduga mengalami tekanan psikologis sebelum melancarkan aksi penembakan yang telah direncanakannya.
"Polisi menginterogasi teman dekatnya yang mengatakan tersangka mengalami stres terkait sekolahnya," kata Anutin Charnvirakul.
Perencana serangan terlihat dari persiapan pelaku yang membawa senjata serta amunisi ke sekolah.
"Tindakannya juga menunjukkan bahwa dia telah merencanakan (penembakan) dengan jelas," kata Anutin Charnvirakul.
Kritik juga datang dari pengamat hukum terkait belum adanya kewajiban tes kesehatan mental dalam proses penerbitan izin senjata api di Thailand.
"Selama ini otoritas hanya melihat aspek finansial, urgensi perlindungan aset, atau alasan pertahanan diri. Padahal di banyak negara lain, alasan-alasan tersebut tidak cukup kuat untuk meloloskan izin," kata Piyaporn Tunneekul, pakar hukum dari Universitas Nakhon Pathom Rajabhat.
Piyaporn menekankan pentingnya mekanisme hukum yang lebih tegas untuk mencabut izin senjata dari individu yang berisiko.
"Kita membutuhkan intervensi hukum seperti aturan red-flag di luar negeri, yang memungkinkan pencabutan senjata api dari seseorang yang dinilai berisiko membahayakan diri sendiri atau orang lain. Tanpa itu, tragedi serupa akan terus berulang," kata Piyaporn Tunneekul.
Kepolisian Kerajaan Thailand hingga kini masih melakukan penyelidikan menyeluruh untuk mengusut tuntas motif dan latar belakang peristiwa tersebut.