Senat Filipina Gelar Sidang Pemakzulan Wakil Presiden Sara Duterte
Wakil Presiden Filipina Sara Duterte mulai menghadapi persidangan pemakzulan yang diperkirakan berlangsung sengit di Senat pada Senin (6/7), terkait tuduhan rencana pembunuhan terhadap Presiden Ferdinand Marcos Jr. hingga penyalahgunaan dana publik, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz.
Persidangan ini memicu ketegangan politik dan kekhawatiran ekonomi di Filipina karena melibatkan benturan dua dinasti politik paling berpengaruh di negara tersebut. Jaksa memerlukan minimal 16 suara dari total 24 senator untuk dapat menjatuhkan vonis bersalah dan memberhentikan Duterte dari jabatannya.
Pakar politik Filipina dari Universitas Waseda, Yuko Kasuya, memberikan pandangannya mengenai peluang perolehan suara dalam proses pemakzulan ini di tingkat Senat.
"Jika cukup banyak senator yang pro-Duterte memandang lebih bijaksana meninggalkan kubu Duterte karena diyakinkan oleh beratnya dugaan pelanggaran yang dilakukan, dan jika para senator benar-benar memberikan suara berdasarkan bukti, maka pihak yang mendukung pemakzulan bisa mencapai 16 suara," ujar Yuko Kasuya.
Kondisi politik di parlemen saat ini sedang tidak menentu karena kubu Duterte kehilangan mayoritas tipis di Senat sejak bulan lalu. Senator Imee Marcos, yang merupakan saudara kandung Presiden Marcos namun hubungannya sedang merenggang, memberikan pembelaan terhadap wakil presiden.
"Mereka tidak memiliki cukup suara untuk memakzulkan Wakil Presiden Sara," kata Senator Imee Marcos.
Meskipun demikian, beberapa sekutu dekat Duterte menilai langkah hukum yang diambil oleh pihak oposisi dan pemerintah merupakan sebuah tindakan yang sia-sia.
"Ini adalah upaya yang sia-sia," ujar Senator Rodante Marcoleta.
Di sisi lain, anggota Senat yang berada di kubu mayoritas mengingatkan agar seluruh hakim senator tetap menjaga profesionalisme selama jalannya persidangan berlangsung.
"Beberapa rekan mengatakan, 'jangan berasumsi bahwa hanya karena saya berada di kubu mayoritas atau minoritas, saya pasti akan memilih menghukum atau membebaskan'," kata Senator Risa Hontiveros.
Hontiveros juga menambahkan bahwa ketidakhadiran dua senator, yakni satu orang ditahan akibat korupsi dan satu orang bersembunyi, memunculkan pertanyaan hukum baru mengenai perhitungan syarat dua pertiga suara.
Proses pembuktian di persidangan akan menjadi krusial karena jaksa berencana membuka data pajak Duterte serta memanggil perwakilan bank dan pejabat pemerintah ke persidangan.
"Jaksa berhak menghadirkan saksi yang mereka yakini dapat mendukung perkara mereka, sebagaimana pihak pembela juga berhak menguji kesaksian mereka melalui pemeriksaan silang dan menghadirkan bukti sendiri," kata Michael Poa, pengacara Duterte.
Kondisi persidangan ini menarik perhatian langsung dari Presiden Ferdinand Marcos Jr. yang meminta sang wakil presiden untuk menghadapi tuduhan secara langsung.
"Kalau saya yang dituduh, saya mungkin akan bersikeras hadir meskipun pengacara melarang. Kalau mereka menyarankan saya tidak hadir, saya justru akan tetap datang," kata Presiden Ferdinand Marcos Jr.
Dampak dari dinamika politik ini dinilai akan sangat menentukan arah pemilihan presiden Filipina yang dijadwalkan berlangsung pada tahun 2028.
"Itu akan menjadi suntikan adrenalin besar bagi kampanyenya, seratus persen," ujar Alan German, Presiden perusahaan konsultan pencitraan politik Agents International Inc.
Hontiveros menegaskan kembali bahwa jalannya persidangan pemakzulan ini masih sangat dinamis dan sulit diprediksi secara mutlak.
"Siapa yang tahu? Semua prediksi bisa saja meleset," ujar Senator Risa Hontiveros.