Serangan Kilang Minyak Iran Hasilkan Emisi Gas Beracun Setara Letusan Gunung Berapi

Share

Sebuah analisis terbaru mengungkapkan bahwa serangan satu hari terhadap empat kilang minyak di Iran memicu dampak lingkungan yang masif. Insiden tersebut menghasilkan emisi sulfur dioksida (SO2) yang kekuatannya setara dengan letusan gunung berapi.

Data penginderaan jauh dari satelit meteorologi China dan Eropa menunjukkan kebakaran hebat melanda kilang serta fasilitas penyimpanan minyak Iran pada 7 Maret. Peristiwa tersebut melepaskan sekitar 33.000 ton SO2 hingga tanggal 8 Maret.

Awan gas beracun tersebut kemudian bergerak sejauh 2.000 kilometer pada 9 Maret hingga menjangkau kawasan Asia Timur. Laporan mengenai fenomena ini turut dikutip dari Detik iNET berdasarkan studi di jurnal Advances in Atmospheric Sciences.

Meskipun awan gas beracun itu sebagian besar telah terurai pada akhir 9 Maret, para peneliti menegaskan dampaknya tidak boleh diabaikan. Polutan yang dilepaskan tercampur dengan curah hujan sehingga memicu terjadinya hujan hitam yang bersifat korosif.

Hujan tersebut membawa partikel beracun berbahaya seperti hidrokarbon. Dampak kesehatannya langsung dirasakan oleh sebagian masyarakat di wilayah terdampak pencemaran udara tersebut.

"Beberapa penduduk mengalami sakit headache, rasa pahit di mulut, iritasi mata dan kulit, serta kesulitan bernapas," tulis penulis studi yang dikutip dari Live Science.

Konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran ini juga memicu pelepasan karbon dioksida (CO2) dalam jumlah besar. Antara 28 Februari dan 14 Maret, emisi CO2 dari perang ini tercatat lebih besar daripada total emisi Islandia sepanjang tahun 2024.

Para ilmuwan kini telah berhasil memetakan ukuran serta jalur pergerakan kepulan SO2 tersebut. Kebakaran tersebut bersumber dari depo minyak Fardis, Shahran, dan Aghdasieh, serta Kilang Minyak Teheran.

Pelacakan pergerakan awan polutan ini menggunakan data dari satelit FengYun 3 milik China dan satelit Sentinel-5 Precursor milik Badan Antariksa Eropa. Hasil pantauan menunjukkan kadar SO2 di atmosfer Teheran melonjak tajam pada 8 Maret.

Total area yang terdampak polusi ini mencapai sekitar 300.000 kilometer persegi. Embusan angin timur laut menjadi faktor utama yang membawa kepulan gas raksasa tersebut melintasi benua menuju Asia Timur.

Sebagai perbandingan, letusan Gunung Eyjafjallajokull di Islandia pada tahun 2010 memuntahkan sekitar 22.000 ton SO2 selama tiga hari. Kala itu, abu vulkaniknya melumpuhkan penerbangan Eropa selama sebulan dan memicu masalah kesehatan luas.

Gas SO2 merupakan pembentuk utama hujan asam yang berisiko melunturkan nutrisi tanah serta mencemari sumber air. Paparan sulfur dioksida yang masif ini juga dikaitkan dengan gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author