Serangan Balasan Iran ke Israel Bawa Dampak Politis Signifikan
Serangan balasan Iran ke wilayah Israel pada Minggu malam hingga Senin (08/06) membawa dampak politis yang cukup signifikan, meskipun secara militer dampaknya bisa terukur atau bahkan diredam.
Balasan itu merupakan reaksi Iran setelah Israel menyerang sebuah bangunan yang disinyalir terkait Hizbullah sekutu Iran, di Beirut Selatan, satu hari sebelumnya.
Serangan-serangan ini terjadi meskipun gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat baru saja diperbarui.
Israel menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan pembalasan langsung atas tindakan Hizbullah yang menembakkan roket ke Israel utara.
Namun, pada tahun-tahun sebelumnya, Iran kerap melancarkan serangan langsung terhadap Israel sebagai pembalasan atas tindakan terhadap wilayah, komando atau bahkan kepentingan Iran.
Serangan kali ini memiliki tendensi yang berbeda karena berpotensi membahayakan negosiasi perdamaian yang 'rapuh' dengan Amerika Serikat.
Sebagian dari jawabannya mungkin terletak pada bagaimana para pemimpin Iran menilai posisi mereka setelah berbulan-bulan konflik.
Republik Islam itu bangkit dari perang dalam keadaan melemah di beberapa aspek, tetapi juga dengan rasa ketahanan diri yang lebih kuat.
Meskipun terdapat tekanan militer Israel dan Amerika yang mencakup sanksi ekonomi dan blokade angkatan laut AS, Iran masih bertahan.
Pemerintah Iran masih berkuasa, aparat keamanannya tetap utuh, dan tidak ada pemberontakan massal yang terwujud yang sering diprediksi negara-negara lawan.
Pengalaman itu mengindikasikan bahwa Iran telah memperhitungkan semuanya.
Alih-alih melihat dirinya sebagai aktor rentan yang berusaha menghindari konfrontasi dengan cara apa pun, Iran mungkin kian memandang dirinya sebagai kekuatan yang telah berhasil melewati masa-masa terburuk dan kini mampu menegakkan batasan akhir yang lebih tegas.
Oleh karena itu, serangan Iran terhadap Israel kali ini besar kemungkinan bukan sekadar pembalasan, melainkan langkah pencegahan.
Iran kemungkinan besar memberi isyarat bahwa serangan terhadap sekutu regionalnya tidak akan lagi diperlakukan terpisah dari serangan terhadap Iran sendiri.
Pesan semacam itu akan memiliki kepentingan khusus bagi Hizbullah, milisi Irak dan anggota jaringan regional Iran lainnya yang dikenal sebagai "Poros Perlawanan".
Kredibilitas pengaruh Iran selalu bertumpu sebagian pada keyakinan bahwa Iran akan berdiri di belakang mitranya. Ketika Iran tidak bereaksi terhadap serangan Israel pada sekutu Iran, maka itu akan merusak kredibilitas Iran dalam "Poros Perlawanan".
Dilihat dari sudut pandang ini, serangan itu tidak hanya ditujukan pada Israel, melainkan sekutu Israel dan Amerika Serikat yang selama ini melihat tindak tanduk Iran.
Asap dan puing-puing mengepul setelah serangan udara Israel di Tyre, Lebanon selatan, 9 Juni lalu (AFP)
Pada waktu yang berdekatan, Presiden AS, Donald Trump baru-baru ini menyebut bahwa kesepakatan mungkin akan segera digapai. Iran diminta menghindari tindakan yang dapat membahayakan upaya diplomasi.
Namun, keyakinan Iran rupanya berbeda.
Para pemimpin Iran bisa menyimpulkan, dengan menujukan kekuatan militer yang terbatas, sebenarnya dapat memperkuat posisi Iran di meja perundingan, alih-alih melemahkannya.
Dari perspektif Iran, mengerahkan kekuatan militer bisa menjadi pengingat bahwa Iran masih memiliki pilihan untuk menentukan nasibnya sendiri.
Melancarkan serangan militer tidak selalu berarti Iran ingin perundingan gagal. Iran tampaknya telah mengambil tindakan untuk membangun preseden dan mengirim pesan politik, tetapi tidak pada skala yang akan membuat eskalasi konflik membesar.