Saturnus Kokohkan Posisi Jadi Planet Berbulan Terbanyak

Share

Saturnus kini menyandang predikat sebagai planet dengan bulan terbanyak di Tata Surya. Planet bercincin itu tercatat memiliki 285 bulan yang telah dikonfirmasi, hampir tiga kali lebih banyak dibandingkan Jupiter yang mempunyai sekitar 101 bulan, seperti dilansir dari Detik iNET.

Lonjakan jumlah bulan ini bukan karena Saturnus memunculkan satelit alami baru. Menurut para astronom, peningkatan ini terjadi berkat kecanggihan teknologi pengamatan yang mampu mendeteksi keberadaan bulan-bulan kecil yang sebelumnya luput dari pandangan.

"Ini adalah kisah tentang kemampuan mendeteksi, bukan tentang Saturnus yang berubah. Kita hanya menjadi jauh lebih baik dalam melihat bulan-bulan yang memang sudah ada,"

Beberapa tahun lalu, Saturnus hanya diketahui memiliki 83 bulan dan posisinya masih berada di bawah Jupiter. Namun, jumlah tersebut kemudian meningkat drastis dalam beberapa tahap pengamatan astronomis. Pada Mei 2023, para astronom menemukan lebih dari 60 bulan baru yang membuat totalnya melampaui 145 bulan.

Selanjutnya pada Maret 2025, ditemukan lagi 128 bulan sekaligus sehingga jumlahnya melonjak menjadi 274. Penambahan 11 bulan lagi pada Maret 2026 mengukuhkan posisi Saturnus sebagai pemilik satelit alami terbanyak. Sebagian besar bulan yang baru ditemukan ini berukuran sangat kecil dengan diameter hanya beberapa kilometer.

Bulan-bulan tersebut mengorbit sangat jauh dari Saturnus sehingga memantulkan cahaya yang sangat redup. Akibatnya, objek luar angkasa ini nyaris tidak terlihat jika menggunakan metode pengamatan biasa.

Para astronom mengandalkan teknik bernama image stacking untuk menemukannya. Metode ini dilakukan dengan mengambil banyak foto di wilayah sekitar Saturnus, lalu menggeser setiap gambar mengikuti perkiraan pergerakan bulan sebelum digabungkan menjadi satu citra.

"Bulan-bulan kecil ini sangat redup dan sulit dideteksi. Dengan menggabungkan banyak citra yang mengikuti gerak orbitnya, objek yang tadinya tenggelam dalam gangguan cahaya akhirnya bisa terlihat,"

Teknik pengamatan tersebut diterapkan memanfaatkan teleskop besar, termasuk Canada-France-Hawaii Telescope (CFHT) di Hawaii. Fasilitas ini memiliki peran penting dalam penemuan ratusan bulan baru Saturnus. Meski jumlahnya mencapai ratusan, sebagian besar bulan baru tersebut bukanlah objek besar seperti Titan atau Enceladus. Mayoritas merupakan satelit tidak beraturan (irregular moons) yang berdiameter sekitar 1 hingga 3 kilometer saja.

Bulan-bulan kecil ini mengorbit pada jarak yang sangat jauh dari Saturnus. Para peneliti memperkirakan objek tersebut merupakan asteroid yang terjebak oleh gaya gravitasi planet raksasa itu sejak miliaran tahun lalu. Para astronom memproyeksikan jumlah bulan Saturnus masih akan terus bertambah seiring peningkatan kemampuan teleskop dan teknik pengamatan. Rekor Saturnus sebagai pemilik bulan terbanyak di Tata Surya diperkirakan belum akan berhenti pada angka 285.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author