Perubahan Es Laut Antarktika Ubah Warna Feses Penguin Adelie

Share

Tim peneliti Amerika Serikat menemukan perubahan warna kotoran penguin Adélie di Antarktika melalui pemantauan citra satelit selama 30 tahun. Studi dalam jurnal Current Biology terbit pada 20 Juli 2026 dan dilansir dari Detikcom mendeteksi korelasi warna feses dengan penurunan volume es laut.

Penurunan es di Samudra Selatan memicu peningkatan konsumsi krill oleh penguin. Kondisi ini memperburuk prospek kelangsungan hidup anak penguin serta memperkecil ukuran koloni.

Analisis radiasi elektromagnetik pada spektrum kotoran mengonfirmasi jenis pakan burung Antarktika tersebut. Feses berwarna putih menandakan konsumsi ikan, sedangkan warna merah muda berasal dari krill.

Meskipun krill melimpah saat es mencair, nilainya secara kalori lebih rendah dibanding ikan tenggiri yang merupakan mangsa utama. Pemanasan global juga mengganggu pembiakan ikan karena media es laut yang menipis.

Dr Casey Youngflesh, asisten profesor di Clemson University, South Carolina, AS, menjelaskan pemanfaatan teknologi ruang angkasa untuk pengamatan tersebut.

"Tidak ada yang bermaksud agar satelit-satelit ini digunakan untuk memantau penguin, tetapi sekarang kita dapat menggunakannya dengan cara-cara baru ini," kata Dr Casey Youngflesh.

Penelitian mengenai perubahan pakan ini dinilai memberikan gambaran lebih luas terkait kondisi alam kutub selatan.

"Penguin merupakan spesies yang ikonik sekaligus dapat menjadi indikator bahaya. Memfokuskan penelitian pada perubahan pola makan penguin memiliki manfaat yang lebih luas bagi pemahaman kita tentang ekosistem Antartika," jelas Dr Michael Polito.

Berdasarkan temuan studi pada 2013, krill diproyeksikan tetap menjadi mangsa utama penguin Adélie dalam beberapa waktu ke depan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author