Sam Altman Sebut Perusahaan Pengadopsi AI Banyak Rekrut Karyawan
CEO OpenAI Sam Altman menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan yang paling aktif mengadopsi teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) justru menjadi pihak yang paling banyak melakukan perekrutan tenaga kerja baru, seperti dilansir dari HaiBunda pada Jumat (12/6/2026).
Pernyataan tersebut menantang kekhawatiran publik mengenai potensi AI yang dinilai dapat memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal di berbagai sektor industri.
Dalam sebuah wawancara dengan CNBC, Altman menjelaskan adanya tren ekspansi tenaga kerja pada perusahaan yang mengintegrasikan kecerdasan buatan secara maksimal.
"Perusahaan-perusahaan yang saya kenal yang paling banyak mengadopsi AI juga merupakan perusahaan yang paling banyak merekrut karyawan," kata Altman.
Ia menambahkan bahwa alasan pengurangan karyawan karena faktor kecerdasan buatan sering kali tidak merefleksikan pemanfaatan teknologi yang sesungguhnya di dalam perusahaan tersebut.
"Secara umum, perusahaan yang berbicara tentang melakukan PHK karena AI justru merupakan perusahaan yang paling sedikit mengadopsi AI," ujarnya.
Altman mengindikasikan bahwa beberapa manajemen perusahaan terkadang memanfaatkan isu AI sebagai alasan penjelas bagi publik saat harus mengambil keputusan pengurangan tenaga kerja.
Pandangan terkini ini menunjukkan perkembangan dari sikap Altman pada tahun 2025, ketika ia sempat memperingatkan potensi hilangnya kategori pekerjaan tertentu akibat kehadiran agen AI yang canggih.
Meskipun mengakui kekuatan AI dalam menyelesaikan tugas teknis seperti pemrograman, Altman menilai teknologi ini masih memiliki keterbatasan besar dalam aspek pengawasan jangka panjang.
"Saya rasa saya meremehkan betapa tidak meratanya kemampuan model-model ini. Mereka melakukan beberapa hal dengan sangat baik, tapi tidak mampu mengawasi tugas kompleks jangka panjang dengan baik," jelas Altman.
Berdasarkan pengamatan pada penggunaan alat bantu Codex, nilai ekonomi terbesar dan produktivitas maksimal justru lahir saat kecerdasan buatan diposisikan sebagai alat pendukung keahlian manusia.
"Orang-orang yang sangat mahir menggunakan model AI dapat menyelesaikan pekerjaan dalam jumlah luar biasa dan menciptakan nilai ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan jika mereka bekerja tanpa model tersebut," kata Altman.
Di sisi lain, tantangan terhadap optimisme ini tetap disuarakan oleh para pemimpin industri teknologi lainnya yang melihat adanya risiko restrukturisasi pasar tenaga kerja.
CEO Anthropic Dario Amodei serta CEO AI Microsoft Mustafa Suleyman termasuk dalam jajaran pakar yang mengingatkan potensi AI menggantikan sebagian pekerjaan, sementara korporasi seperti Salesforce, Cisco, Coinbase, Snap, dan Block sempat menyinggung isu AI dalam efisiensi karyawan mereka.
Kendati demikian, Altman meyakini bahwa faktor interaksi dan kolaborasi antarmanusia tetap menjadi penggerak utama yang paling dihargai oleh masyarakat serta konsumen dalam aktivitas ekonomi.
"Orang menyukai orang lain dan ingin berinteraksi dengan orang lain. Mereka ingin berkolaborasi dan bekerja bersama orang lain," ujar Altman.
Ia menekankan bahwa apresiasi terhadap karya yang murni dihasilkan oleh manusia masih memegang posisi sentral dalam struktur sosial dan ekonomi masa depan.
"Saya pikir industri kami meremehkan seberapa besar kemampuan kita untuk tetap menempatkan manusia di pusat segala hal dalam ekonomi dan dunia yang semakin didukung oleh AI," ujar Altman.