Peresmian Mandatori B50 Dongkrak Saham Emiten CPO di Pasar Modal

Share

Saham sejumlah emiten kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) mengalami lonjakan signifikan setelah peresmian mandatori biodiesel B50 oleh Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (9/7/2026), sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz pada Jumat (10/7/2026).

Sektor konsumen primer yang menaungi saham-saham CPO mencatatkan penguatan sebesar 0,39 persen pada perdagangan Jumat siang. Lonjakan tertinggi dipimpin oleh saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang meningkat 3,22 persen hingga mencapai level Rp6.400 per lembar saham.

Kebijakan penyerapan domestik ini memberikan kepastian pasar yang masif bagi para produsen sawit di dalam negeri. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa implementasi B50 diproyeksikan memerlukan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sebanyak 16,7 hingga 18 juta kiloliter, dengan kebutuhan CPO mencapai 15,2 sampai 16,3 juta ton.

Penguatan harga saham sektor kelapa sawit ini terjadi merata di pasar modal Indonesia pada perdagangan siang hari tersebut.

Daftar Pergerakan Saham Emiten CPO
Nama Emiten Kenaikan (%) Harga Saham (Rp)
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) 3,22% 6.400
PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) 3,18% 1.295
PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) 2,88% 535
PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) 2,61% 1.180
PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) 2,43% 630
PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) 1,49% 1.020
PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) 1,31% 770
PT Sinar Mas Agro Resources and Tech Tbk (SMAR) 0,99% 5.100
PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) 0,65% 1.535

Stabilitas pasar domestik yang tercipta dari kebijakan ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan industri lokal terhadap ketidakpastian pasar ekspor global. Berdasarkan riset Panin Sekuritas oleh Luthfi Novardiansyah, kebijakan B50 berpotensi mendongkrak permintaan biodiesel domestik hingga 3,6 juta MT per tahun dan mendorong ekspansi lahan sawit baru seluas 670 ribu hektare.

Sebagai produsen dan eksportir CPO terbesar di dunia, meningkatnya penyerapan CPO di dalam negeri otomatis akan mengurangi volume ekspor Indonesia ke pasar global. Penurunan pasokan luar negeri ini diprediksi memicu kenaikan harga internasional, yang nantinya berpotensi meningkatkan laba emiten melalui pertumbuhan harga jual rata-rata.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author