Saham CPIN dan GOTO Berisiko Memicu Arus Keluar Dana Asing

Share

Potensi penurunan kelas saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) pada peninjauan berkala MSCI Agustus dan November 2026 mengancam memicu arus keluar dana pasif asing dalam jumlah besar dari pasar modal Indonesia.

Analis Mirae Asset Sekuritas Wilbert Arifin memproyeksikan saham CPIN berpeluang diturunkan ke indeks small cap akibat penurunan harga saham sebesar 22,5 persen sejak Mei lalu, yang berisiko melepas dana asing sekitar Rp500 miliar atau setara 150 juta saham.

"CPIN menjadi kandidat utama untuk migrasi ke indeks yang lebih rendah," kata Wilbert Arifin, Research Analyst Mirae Asset Sekuritas.

Risiko pelepasan dana asing berpotensi meningkat hingga Rp1 triliun apabila saham GOTO ikut terdepak dari indeks utama tersebut.

"Ini perbandingannya 1:120. Makanya ini menjadi kekhawatiran, karena jika katakanlah kita pindah ke frontier, maka kita berpindah dari kolam yang besar ke kolam yang kecil," kata Wilbert Arifin, Research Analyst Mirae Asset Sekuritas.

Wilbert menambahkan bahwa skenario terburuk penurunan status pasar saham Indonesia dari emerging market ke frontier market berisiko memicu depresiasi dana asing hingga Rp80 triliun akibat masalah konsistensi reformasi.

"Yang mereka perhatikan adalah konsistensinya. Mereka tidak mau hanya melihat data perubahan sekejap dan langsung memberi kelonggaran. Mereka masih memantau perkembangan kita sampai November. Jika tidak ada perbaikan atau konsistensi tidak terjadi, maka masih ada risiko kita ke frontier," kata Wilbert Arifin, Research Analyst Mirae Asset Sekuritas.

Tekanan terhadap pasar saham juga dipengaruhi faktor makroekonomi global, di mana kebijakan suku bunga yang tetap tinggi memperketat likuiditas dolar AS dan menekan nilai tukar rupiah.

"Kondisi higher for longer membuat likuiditas dolar AS semakin ketat sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Di tengah perlambatan ekonomi dan potensi twin deficit, ruang Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga juga semakin terbatas," kata Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

Penyusutan bobot saham Indonesia di MSCI Emerging Markets hingga di bawah 0,5 persen memperluas dorongan bagi investor domestik untuk mengambil alih peran penentu harga pasar.

"Ketika penentu harga dari investor asing mulai mundur, basis investor domestik akan mengambil peran sebagai pembeli marginal sehingga perilaku pasar akan berubah dibanding sebelumnya," kata Raja Abdalla, Analis Bahana Sekuritas.

Di sisi lain, Chief of Equity Strategist Trimegah Sekuritas Indonesia Aldo Perkasa menilai Indonesia masih berpeluang mempertahankan posisinya di kategori Emerging Market seiring komitmen otoritas bursa dalam mendorong reformasi pasar secara berkelanjutan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author