Saham Chandra Asri Pacific Anjlok Menyentuh Batas Batas ARB Lima Hari

Share

Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) kembali mengalami tekanan hebat hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) sebesar 15 persen pada Kamis (21/5/2026). Kemerosotan ini memperpanjang tren negatif selama lima hari berturut-turut setelah emiten petrokimia tersebut terdepak dari indeks MSCI.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pukul 09.41 WIB, nilai saham TPIA merosot 14,66 persen menuju level Rp2.270 per unit, yang menjadi posisi terendah sejak September 2023. Aktivitas perdagangan mencatatkan nilai transaksi mencapai Rp157,1 miliar dengan volume kumulatif sebesar 67,43 juta saham.

Kejatuhan ini membuat saham milik taipan Prajogo Pangestu menyusut 47,21 persen dalam sepekan terakhir dan tergelincir hingga 62,63 persen dalam kurun waktu satu bulan. Padahal, emiten ini pernah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada level Rp11.200 per unit pada 7 Agustus 2024.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh menjelaskan bahwa penurunan performa saham TPIA dipicu oleh pembukaan data kepemilikan saham baru oleh BEI. Kebijakan tersebut menyingkap bahwa kapitalisasi pasar free float perseroan sudah tidak mampu lagi memenuhi ambang batas minimum yang ditetapkan oleh indeks global tersebut.

"TPIA akan keluar dari indeks MSCI karena jumlah shareholders di atas 1 persen yang dibuka oleh BEI membuat market cap free float tidak memenuhi threshold," ujar Michael, Kamis (21/5/2026).

Kondisi didepaknya emiten berkode TPIA ini diproyeksikan bakal memicu aksi jual massal dari para pengelola dana internasional.

"Estimasi akan ada outflow sekitar Rp2 triliun," katanya.

Tekanan jual eksternal terhadap saham TPIA serta entitas lain di dalam Grup Barito yang terafiliasi dengan MSCI diperkirakan Michael masih akan bergulir. Proses koreksi ini diprediksi terus membayangi pergerakan saham hingga tibanya periode penyesuaian indeks berikutnya pada Juni 2026.

Di tengah volatilitas pasar sekunder ini, perseroan tetap merealisasikan komitmen korporasi dengan membagikan dividen tunai tahun buku 2025 senilai USD30 juta atau setara Rp6,07 per saham. Langkah ini mengacu pada hasil keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 13 Mei 2026.

Pembagian dividen tersebut bersumber dari perolehan laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk sebesar USD1,09 miliar pada akhir 2025. Dilansir dari IDXChannel, emiten juga mengantongi saldo laba ditahan senilai USD1,71 miliar dengan total ekuitas tercatat sebesar USD4,66 miliar.

Batas akhir perdagangan saham dengan hak dividen atau cum dividen di pasar reguler dan negosiasi dijadwalkan pada 25 Mei 2026. Sementara itu, proses realisasi pembayaran dividen tunai kepada para pemegang saham akan dilaksanakan pada 17 Juni 2026.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author