Saham BUMI Dibuka Stagnan di Rp 171 pada 27 Juli 2026

Share

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan harga saham yang stagnan pada posisi Rp 171 per lembar pada pembukaan perdagangan sesi pertama di Bursa Efek Indonesia, Senin (27/7/2026).

Pergerakan stagnan dengan pergeseran 0,00 persen tersebut terjadi di tengah laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sedang mengalami penurunan pada pembukaan pagi. Pada sesi perdagangan bursa sebelumnya, saham emiten pertambangan ini juga ditutup pada level Rp 171 per lembar, dengan total nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp 63 triliun.

Aktivitas transaksi saham BUMI sebelumnya sempat melonjak signifikan hingga menyentuh level tertinggi di Rp 196 pada Kamis (23/7/2026) sebelum terkoreksi ke posisi Rp 183. Kemudian pada Jumat (24/7/2026), harga saham kembali turun 6,56 persen ke level Rp 171, dipicu oleh aksi jual sebagian pelaku pasar di sekitar area pertahanan teknikal dan rata-rata pergerakan 200 hari (MA200 Daily).

Tingginya likuiditas dan sensitivitas terhadap pergerakan komoditas global membuat saham BUMI terus menjadi salah satu instrumen teraktif yang dilirik pasar. Selain dinamika teknikal dan likuiditas, perseroan tengah aktif bertransisi dari produsen batu bara murni menjadi emiten pertambangan yang ter diversifikasi melalui serangkaian langkah akuisisi strategis.

BUMI telah merampungkan akuisisi 100 persen saham Wolfram di sektor tembaga pada November 2025, 100 persen saham Jubilee di sektor emas pada Desember 2025, serta 45 persen saham Laman Mining yang memiliki cadangan bauksit sebesar 30 juta ton. Perseroan juga merencanakan akuisisi Loyal Metals di Australia senilai Rp 977 miliar untuk menambah portofolio emas dan tembaga, di samping melakukan divestasi Citra Palu Mineral (CPM) ke BRMS senilai Rp 151,99 miliar pada Juni 2026.

Analis BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) memberikan pandangan mengenai langkah diversifikasi serta valuasi pergerakan saham emiten tersebut.

"Harga saham BUMI turun dari Rp 236 pada kuartal pertama 2026 ke sekitar Rp 175 saat ini, mencerminkan sentimen negatif sektor batu bara dan koreksi konglomerasi," ujar BRIDS.

Pihak BRIDS menambahkan bahwa tingkat harga tersebut mencerminkan rasio penilaian pasar yang mulai mengalami penyesuaian secara teknis.

"Harga Rp 175 mengindikasikan rasio PE 39 kali dan PBV 2,3 kali. Secara historis, saham BUMI saat ini relatif undervalued karena PE historis pernah lebih dari 500 kali dengan rata-rata tiga tahun 159 kali," ujar BRIDS.

Kondisi keuangan perusahaan dinilai terus menunjukkan perbaikan seiring berjalannya langkah restrukturisasi internal.

"PE 39 kali saat ini menunjukkan normalisasi ke level rasional setelah kemampuan laba BUMI kembali berkelanjutan dan restrukturisasi utang selesai," menjelaskan BRIDS.

BRIDS menilai penguatan portofolio di luar komoditas batu bara menjadi fokus utama pendorong nilai perseroan ke depan.

"Cerita BUMI sekarang bukan hanya mengandalkan pemulihan harga batu bara, melainkan transformasi ke platform pertambangan terdiversifikasi dengan kombinasi tembaga, emas, bauksit, dan batu bara. Timing akuisisi mineral di tengah harga emas dan tembaga tinggi adalah strategi yang tepat," menggarisbawahi BRIDS.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author