Saham Bumi Resources Melemah di Tengah Transformasi Bisnis Tambang
Harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) merosot sebesar 16,07 persen dalam periode perdagangan 22 hingga 26 Juni 2026 ke posisi Rp141 per lembar saham setelah sempat melonjak pada dua pekan sebelumnya. Dilansir dari investor.id, penurunan tajam ini diiringi aksi jual bersih oleh investor asing yang mencapai Rp67,87 miliar dalam sepekan, meskipun pada perdagangan Jumat (26/6/2026) pemodal asing mulai melakukan aksi beli bersih senilai Rp11,74 miliar. Kondisi pasar ini bertolak belakang dengan kinerja fundamental emiten Grup Bakrie dan Salim tersebut yang mencatatkan pertumbuhan positif sepanjang tahun buku 2025.
Berdasarkan data Kompasiana, laba usaha BUMI melonjak 131,43 persen menjadi USD 141,33 juta berkat efisiensi biaya operasional yang ketat, sementara laba bersih meningkat sebesar 35,70 persen hingga mencapai USD 122,30 juta.
Struktur kendali bersama antara Grup Bakrie yang berfokus pada operasional taktis dan Grup Salim sebagai mitra modal strategis turut memperkuat tata kelola serta meminimalkan risiko finansial jangka panjang perusahaan. Di sisi lain, BUMI tengah gencar melakukan diversifikasi ke sektor mineral kritis guna mengantisipasi kebijakan dekarbonisasi global.
Langkah nyata tersebut dibuktikan dengan pengambilalihan 100 persen saham Wolfram Limited di Australia, kepemilikan 64,98 persen saham Jubilee Metals Limited di Queensland, serta proses finalisasi akuisisi 45 persen saham Laman Mining di Kalimantan Barat. Pendanaan ekspansi bisnis ini diperoleh secara mandiri melalui penerbitan Obligasi Berkelanjutan I BUMI Tahap II senilai Rp1,85 triliun yang terserap sepenuhnya oleh pasar.
Melihat performa tersebut, Samuel Sekuritas dalam risetnya per 26 Juni 2026 memberikan rekomendasi beli untuk saham BUMI dengan target harga Rp300 per lembar saham. Sementara itu, analisis EV/EBITDA multiple yang dilansir Kompasiana menetapkan proyeksi nilai wajar saham BUMI berada di angka Rp185 per lembar untuk jangka waktu 12 bulan ke depan. Meskipun memiliki fundamental kokoh, operasional tambang terbuka milik BUMI masih menghadapi tantangan berupa risiko cuaca basah ekstrem yang dapat menghambat logistik dan fluktuasi nilai tukar mata uang asing.