Saham BUMI Ambles Sembilan Persen Saat IHSG Tertekan di Zona Merah
Harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berbalik arah melemah sebesar 9,22 persen ke level Rp 187 per saham pada penutupan perdagangan sesi pertama hari Selasa (19/5/2026). Koreksi tajam emiten pertambangan batu bara milik Grup Bakrie dan Salim ini terjadi di Bursa Efek Indonesia saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sedang tertekan di zona merah.
Mengutip data RTI via Liputan6.com, saham emiten tambang ini sebenarnya sempat dibuka menguat dua poin ke posisi Rp 208 per saham dan bergerak di zona hijau pada awal perdagangan. Namun, pergerakan saham kemudian berbalik arah hingga menyentuh level tertinggi Rp 212 dan level terendah Rp 181 per saham.
Perdagangan saham BUMI mencatatkan frekuensi sebanyak 85.773 kali dengan volume mencapai 56.410.152 saham. Nilai transaksi harian saham emiten ini menyentuh Rp 1,1 triliun, sementara kapitalisasi pasarnya berada di angka Rp 69,44 triliun.
Meskipun pasar melemah, saham BUMI tetap menempati urutan pertama sebagai saham teraktif berdasarkan nilai transaksi senilai Rp 1,1 triliun. Angka tersebut mengungguli PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp 654,9 miiliar dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) senilai Rp 628,8 miliar.
Sebelumnya, BNI Sekuritas sempat memberikan rekomendasi taktis untuk emiten ini pada perdagangan yang sama. Analisis dari Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas Fanny Suherman menetapkan target terdekat untuk saham BUMI berada di level Rp 210 sampai Rp 214, dengan area beli pada rentang harga Rp 202 hingga Rp 206 berdasarkan data Investor Daily.
"BUMI spec buy dengan area beli di 202-206, cutloss di bawah 200. Target dekat di 210-214," tulis BNI Sekuritas pada perdagangan, Selasa (19/5/2026).
Aksi lepas saham oleh investor asing atau net sell tercatat melanda emiten ini sebesar Rp 16,5 miliar berdasarkan data dari Stockbit pada perdagangan hari Senin (18/5/2026). Situasi tersebut bertepatan dengan pelemahan harga saham BUMI sebesar 3,7 persen yang ditutup pada level Rp 206.
Tren penurunan performa saham BUMI juga terlihat dalam akumulasi waktu yang lebih panjang melalui catatan bursa. Saham BUMI tercatat menyusut sebesar 2,8 persen dalam sepekan terakhir, merosot 16,9 persen dalam sebulan, dan mengalami penurunan hingga 43,7 persen sepanjang periode year to date (ytd).
Pelemahan ini sejalan dengan IHSG yang ditutup merosot 3,08 persen atau turun ke level 6.396,2 pada sesi pertama hari Selasa pekan ini. Indeks saham LQ45 juga ikut terpangkas 2,1 persen menuju level 637,4, di mana seluruh indeks saham acuan kompak tertekan.
Sepanjang sesi pertama, IHSG bergerak pada rentang tertinggi 6.635,12 dan terendah 6.376,34. Sebanyak 611 saham melemah sehingga membebani pergerakan indeks, sedangkan 96 saham menguat dan 107 saham lainnya stagnan dengan nilai transaksi harian total Rp 16,1 triliun.
Seluruh sektor saham di bursa terpantau mengalami tekanan, dengan sektor basic mencatat koreksi terbesar hingga 7,2 persen. Sektor energi menyusul dengan pelemahan 6,47 persen, sektor industri turun 3,4 persen, dan sektor infrastruktur merosot 3,3 persen.
Beberapa saham lain yang juga melemah pada sesi pertama ini antara lain PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) yang turun 6,1 persen ke Rp 2.310 dan PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk (RMKO) yang merosot 4,9 persen ke Rp 426.