Saham Asia Diprediksi Anjlok Akibat Aksi Jual Produsen Chip AS
Pasar saham di Asia diproyeksikan mengalami penurunan pada Kamis (02/07/2026) setelah aksi jual besar-besaran melanda produsen chip Amerika Serikat dan membebani sentimen global, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz. Kondisi tersebut diperparah oleh sikap investor yang sedang mencermati pernyataan dari Ketua Federal Reserve Kevin Warsh terkait stabilitas harga dan arah kebijakan suku bunga global. Indeks saham berjangka untuk wilayah Australia, Jepang, dan Korea Selatan langsung menunjukkan indikasi pelemahan menyusul penurunan bursa Wall Street semalam, di mana Nasdaq 100 merosot 1,5 persen dan sektor semikonduktor anjlok 6,3 persen.
Sentimen pasar kini tertuju pada pernyataan dari Evercore mengenai proyeksi kebijakan bank sentral AS setelah pidato dari Kevin Warsh di forum tahunan Bank Sentral Eropa.
"Setidaknya, komentarnya tidak memicu spekulasi mengenai kenaikan suku bunga dalam waktu dekat pada bulan Juli, dan menurut kami hal ini menunjukkan bahwa ketua Fed yang baru—meski tetap membuka semua opsi dari satu rapat ke rapat lainnya—saat ini tidak melihat adanya alasan untuk melakukan kenaikan segera," kata Krishna Guha, perwakilan dari Evercore. Di sisi lain, akselerasi pada sektor manufaktur Amerika Serikat dinilai masih memperlihatkan ketangguhan ekonomi meskipun ada tekanan biaya input akibat kondisi geopolitik global.
"Secara keseluruhan, laporan ini menunjukkan ketahanan yang berkelanjutan di sektor manufaktur dan mendukung pandangan kami bahwa perekonomian AS sedang mengalami percepatan kembali, dengan pertumbuhan tetap berada di jalur untuk mencapai sekitar 2,4% tahun ini," kata Eugenio Aleman, kepala ekonom di Raymond James. Fokus investor berikutnya tertuju pada rilis data ketenagakerjaan AS bulan Juni, meskipun pengaruhnya terhadap kebijakan suku bunga diperkirakan tidak akan terlalu signifikan secara langsung.
"kemungkinan tidak akan mengubah ekspektasi suku bunga dengan sendirinya," kata Julien Lafargue, kepala strategi pasar di Barclays Private Bank and Wealth Management. Sementara itu, perkembangan positif dari meja perundingan antara pihak AS dan Iran di Qatar turut memengaruhi pergerakan harga minyak mentah dunia serta memberikan sudut pandang baru bagi para pelaku pasar bursa. "Bukan berarti kami yakin akan ada kesepakatan komprehensif.
Kemungkinan besar ini hanya kompromi. Namun, selama Selat tetap terbuka dan minyak terus mengalir, pasar kemungkinan akan menjadi kurang sensitif terhadap isu-isu geopolitik." kata Mohit Kumar, analis dari Jefferies.
Selain dinamika makroekonomi, pekan ini juga diwarnai aksi korporasi besar termasuk negosiasi Apple Inc. terkait pasokan chip dengan produsen Tiongkok, rencana bisnis infrastruktur cloud dari Meta Platforms Inc., dan sengketa hukum Google dengan unit Klarna Group Plc.