Saham Asia Diperkirakan Melemah Akibat Volatilitas Wall Street dan Konflik Iran

Share

Pasar saham di Asia diperkirakan mengalami pelemahan setelah sesi perdagangan yang fluktuatif di Wall Street. Investor saat ini terus mencermati eskalasi konflik di Iran serta mengantisipasi rilis data inflasi Amerika Serikat yang diproyeksikan meningkat pada Mei, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.

Kontrak berjangka untuk indeks saham di Jepang, Hong Kong, dan Korea Selatan menunjukkan pergerakan ke zona merah. Kondisi serupa terjadi pada kontrak berjangka saham AS yang turun tipis setelah indeks S&P 500 bergerak liar sebelum akhirnya ditutup sedikit lebih rendah.

Indeks Nasdaq 100 mencatat penurunan sebesar 1,1 persen. Koreksi ini dipicu oleh langkah para pelaku pasar yang terus melakukan rotasi modal keluar dari sektor saham teknologi.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate merangkak naik pada awal perdagangan setelah sempat merosot lebih dari 3 persen. Penurunan sebelumnya dipicu oleh indikasi penurunan permintaan yang sempat meredam kekhawatiran akibat penutupan jalur laut di Selat Hormuz.

Ketegangan geopolitik meningkat setelah Amerika Serikat meluncurkan serangan yang diklaim sebagai aksi pertahanan diri terhadap Iran. Langkah ini diambil usai Presiden AS Donald Trump menuduh Teheran menembak jatuh helikopter militer Amerika di dekat Oman.

Situasi tersebut menjadi ancaman baru bagi gencatan senjata yang sedang berjalan dan mempersulit harapan pemulihan pasokan energi dunia. Di sisi lain, volatilitas sektor teknologi kini menguji kekuatan pasar yang sebelumnya sempat mencetak rekor tertinggi akibat euforia kecerdasan buatan.

Data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang tetap solid juga memicu keraguan pasar terhadap rencana pelonggaran kebijakan moneter. Investor kini fokus menanti laporan indeks harga konsumen untuk melihat arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

"Euforia sudah terbentuk selama berbulan-bulan dan mendorong saham mencetak rekor demi rekor. Jadi apa pun yang dipersepsikan negatif bagi saham, mulai dari inflasi lebih tinggi hingga potensi kenaikan suku bunga akan mengguncang pasar setelah reli historis," kata Chief Investment Officer Baker Boyer Bank, John Cunnison.

Meskipun saham teknologi tertekan, reli pasar sebenarnya mulai meluas ke sektor lain dengan menguatnya sembilan dari 11 sektor di S&P 500. Sektor defensif seperti real estate naik 2,1 persen, layanan kesehatan bertambah 1,3 persen, dan utilitas menguat 1,1 persen.

"Meski kami senang melihat kepemimpinan sektor teknologi, akan lebih konstruktif jika reli ini meluas ke sektor lain," kata Bret Kenwell dari eToro.

"Ketika kepemimpinan hanya terkonsentrasi pada satu sudut sektor teknologi, fondasi pasar menjadi lebih fragile," tambahnya.

Tekanan pasar juga dipengaruhi oleh rencana penerbitan saham baru dalam jumlah besar, termasuk rencana IPO SpaceX yang diperkirakan berlangsung pekan ini. Muncul pertanyaan mengenai kemampuan likuiditas pasar untuk menyerap pasokan saham baru tersebut tanpa menekan valuasi yang ada.

"Uangnya berasal dari mana?" kata Anthony Saglimbene dari Ameriprise.

"Sebagian permintaan mungkin berasal dari kas. Sebagian lagi dari partisipasi investor ritel baru. Namun partisipasi institusi dalam transaksi sebesar ini juga dapat memaksa investor mengurangi kepemilikan saham yang sudah mencetak keuntungan besar," ujarnya.

Pada instrumen lain, obligasi pemerintah AS atau Treasury menguat seiring dengan penurunan harga minyak yang membantu meredakan kekhawatiran inflasi jangka pendek. Imbal hasil obligasi tercatat turun sekitar tiga hingga empat basis poin di berbagai tenor.

Ekonom yang disurvei Bloomberg memperkirakan inflasi tahunan CPI AS meningkat menjadi 4,2 persen pada Mei dari 3,8 persen pada bulan sebelumnya. Untuk inflasi inti, nilainya diperkirakan naik tipis menjadi 2,9 persen dari posisi 2,8 persen.

"Kombinasi data tenaga kerja yang lebih kuat dan inflasi yang masih tinggi membuat pasar mulai memperhitungkan peluang lebih besar bahwa The Fed harus memperketat kebijakan," kata Kepala Strategi Suku Bunga AS TD Securities, Gennadiy Goldberg.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author