Saham Alphabet Turun Imbas Mundurnya Peneliti AI Google
Alphabet, perusahaan induk Google, mengalami penurunan saham sebesar 5 persen pada hari Senin waktu Amerika Serikat akibat kekhawatiran pasar terkait kecerdasan buatan (AI) serta mundurnya dua peneliti senior ke perusahaan pesaing.
Dilansir dari Detik iNET yang melansir CNBC, kemerosotan nilai saham ini menjadi penurunan paling tajam bagi Alphabet sejak kejatuhan sebesar 7 persen pada Mei 2025. Kinerja saham induk Google tersebut tercatat lebih buruk dibandingkan dengan emiten raksasa teknologi lainnya pada perdagangan yang sama.
Kondisi ini dipicu oleh hengkangnya Wakil Presiden Teknik Google sekaligus salah satu pemimpin proyek AI Gemini, Noam Shazeer, yang mengumumkan kepindahannya ke OpenAI. Shazeer sebelumnya ditarik kembali oleh Google pada Agustus 2024 bersama rekannya, Daniel De Freitas, dari startup Character.AI untuk memperkuat unit DeepMind AI.
Selain Shazeer, John Jumper yang menjabat sebagai Vice President DeepMind juga menyatakan mundur setelah sembilan tahun mengabdi untuk bergabung dengan Anthropic. Jumper merupakan peraih Hadiah Nobel tahun 2024 bersama Demis Hassabis berkat penciptaan AlphaFold, sebuah teknologi AI pemrediksi struktur protein yang memangkas waktu riset medis.
Sentimen negatif pasar diperparah oleh pernyataan CEO Microsoft, Satya Nadella, dalam wawancaranya bersama Wall Street Journal yang menyerukan agar industri tidak terlalu bergantung pada raksasa AI karena pasar kini telah menjadi komoditas. Pernyataan tersebut membuat investor mulai mempertanyakan efisiensi dana sebesar 141 miliar dolar AS yang dihimpun Alphabet sejak Oktober untuk investasi ekosistem AI.
Di samping tekanan di pasar saham dan hilangnya talenta digital, pengguna Google juga melaporkan gangguan pemadaman massal pada layanan Gmail serta YouTube pada hari Senin.