Rusia dan Korea Utara Percepat Pembangunan Jembatan Baru Perbatasan
Rusia dan Korea Utara mempercepat pembangunan jembatan jalan raya baru di perbatasan mereka yang melintasi Sungai Tumen. Jembatan ini dibangun paralel dengan Jembatan Kereta Api Persahabatan Korea-Rusia yang sudah ada sejak 1959 dan menjadi satu-satunya jalur darat penghubung kedua negara.
Pembangunan jembatan baru ini menimbulkan kekhawatiran di Ukraina yang melihat potensi penggunaan jembatan tersebut untuk pengiriman pasukan dan persenjataan secara diam-diam dari Korea Utara ke medan perang Ukraina. Kerja sama militer antara Rusia dan Korea Utara semakin erat sejak konflik Ukraina berlangsung pada 2022.
Pada Juni 2024, Vladimir Putin dan Kim Jong Un menandatangani perjanjian kemitraan strategis yang memperkuat kerja sama militer, termasuk pengiriman senjata dan pasukan Korea Utara ke Rusia. Bersamaan dengan itu, mereka sepakat membangun jembatan jalan raya baru sebagai bagian dari pengembangan hubungan bilateral.
Menteri Perhubungan Rusia, Andrei Nikitin, menyatakan bahwa jembatan baru ini akan memperkuat perdagangan dan hubungan budaya, serta mengubah wilayah perbatasan menjadi pusat ekonomi dinamis. Namun, menurut analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS), pembangunan jembatan ini juga berkaitan erat dengan peningkatan aktivitas perdagangan di tengah perang Rusia-Ukraina.
Surat kabar The Guardian mempertanyakan tujuan ekonomi proyek ini mengingat volume perdagangan kedua negara pada 2024 hanya sekitar 34 juta dolar AS, sementara biaya pembangunan mencapai sekitar 100 juta dolar AS. Citra satelit menunjukkan pembangunan fasilitas seperti gudang besar, gedung bea cukai, tempat parkir truk, dan landasan helikopter di sekitar jembatan.
Organisasi hak asasi manusia Ukraina, Truth Hounds, menganggap pariwisata bukan alasan utama dibangunnya jembatan ini. Lokasi yang terpencil dan isolasi Korea Utara membatasi potensi pertumbuhan pariwisata, terutama karena ibu kota Pyongyang yang menjadi tujuan utama wisatawan berada jauh dari perbatasan.
Truth Hounds menyimpulkan bahwa alasan utama pembangunan ini adalah mempererat kerja sama militer, khususnya pengiriman pasukan dan senjata Korea Utara ke Rusia. Pengiriman pasukan melalui jalur darat dinilai lebih sulit dipantau satelit dibandingkan jalur kereta api karena fleksibilitas bongkar muat dan jaringan jalan yang luas.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan potensi pengiriman hingga 30.000 tentara tambahan dari Korea Utara. Dia juga menilai kerja sama militer ini menguntungkan Korea Utara dalam mempelajari strategi perang dan teknologi persenjataan Rusia, termasuk kemungkinan imbalan dalam bidang teknologi nuklir.
Situasi ini menjadi ancaman keamanan regional karena kemampuan Korea Utara mengembangkan teknologi rudal yang dapat menjangkau wilayah Asia secara luas.