Rupiah Tertahan di Level Rp18.064 per Dolar AS pada 7 Juli 2026

Share

Nilai kontrak mata uang Garuda terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau masih tertahan di posisi Rp18.064/US$ pada sesi perdagangan Selasa (7/7/2026) pagi. Informasi tersebut dilansir dari Bloomberg Technoz setelah rupiah sempat mengalami pelemahan sebesar 0,07% pada sesi perdagangan kemarin.

Penguatan dolar AS saat ini terpantau sedikit terpangkas dengan indeks dolar AS bertengger pada level 100,87 terhadap enam mata uang utama. Kondisi ini memicu pergerakan yang bervariasi bagi jajaran mata uang di kawasan Asia.

Dari zona penguatan, won Korea Selatan memimpin apresiasi paling tajam, yang kemudian diikuti oleh peso Filipina, baht Thailand, dolar Singapura, ringgit Malaysia, dan dolar Hong Kong. Sebaliknya, dolar Taiwan, yen Jepang, serta yuan offshore justru mengalami pelemahan pada sesi pagi hari ini.

Pada perdagangan kemarin, mata uang di kawasan regional kompak melemah dengan koreksi terdalam dialami oleh baht Thailand sebesar 0,63%. Sementara itu, mata uang rupiah terdepresiasi 0,23% bersamaan dengan pelemahan yuan China.

Di sisi lain, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah dengan tenor acuan 10 tahun kini menyentuh level terendah dalam periode dua pekan. Yield instrumen utang negara ini tercatat turun 1 basis poin ke posisi 7,13%.

Tekanan serempak yang melanda mata uang Asia terjadi akibat keperkasaan dolar AS yang membukukan kenaikan pertama pada sesi perdagangan terakhir kemarin. Sentimen pelaku pasar saat ini sedang mencermati kesepakatan OPEC+ terkait peningkatan kuota produksi minyak bumi.

Selain itu, kalangan investor di pasar keuangan juga tengah mengantisipasi perilisan risalah rapat kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve, untuk periode bulan Juni yang dijadwalkan keluar pekan ini.

Terkait kondisi domestik, Wee Khoon Chong selaku Strategis Asia Pasifik di BNY menilai bahwa rupiah masih menjadi salah satu mata uang yang memiliki tingkat kerentanan paling tinggi di kawasan regional Asia.

"Arus keluar modal asing yang terus terjadi di pasar saham, tingginya yield obligasi pemerintah tenor panjang, serta mahalnya kontrak forwards rupiah tenor pendek masih mencerminkan tekanan yang mendasari pasar valuta asing RI," kata Wee Khoon Chong.

Di sisi lain, Ekonom Citi Helmi Arman memperkirakan adanya hambatan struktural yang berpotensi membatasi laju penguatan mata uang Garuda ke depan. Meskipun demikian, kondisi neraca transaksi berjalan Indonesia diproyeksikan membaik pada kuartal III-2026 sehingga tekanan berpeluang mereda.

Langkah Pemulihan Kepercayaan Investor

Sufianti yang merupakan Strategist Bloomberg Intelligence menyatakan bahwa proses pemulihan kepercayaan investor global harus diawali dengan langkah konkret untuk menghentikan laju hengkangnya modal asing dari pasar saham domestik.

Walaupun aksi pembelian selektif oleh pelaku pasar jangka panjang masih terdeteksi sebagai sinyal minat terhadap aset domestik, indikator tersebut dinilai belum cukup kuat untuk membalikkan keseluruhan sentimen pasar.

"Dalam proses tersebut, arus dana ke sektor keuangan diperkirakan akan menjadi indikator utama yang menandai kembalinya minat investor," sebut Sufianti dalam catatannya.

Dirinya menambahkan bahwa pemerintah perlu meluncurkan reformasi kebijakan yang kredibel, tepat waktu, dan tepat sasaran agar aliran modal luar negeri bisa kembali masuk secara berkelanjutan. Reduksinya faktor risiko eksternal juga menjadi syarat utama pemulihan sentimen.

Sebagai informasi, gelombang aksi jual oleh pemodal internasional dipicu oleh beberapa kombinasi faktor, termasuk penyusutan bobot Indonesia di dalam MSCI Index. Selain itu, tingkat premi risiko tetap tinggi akibat kekhawatiran atas prospek peringkat kredit nasional.

Lembaga pemeringkat Fitch Ratings pada pekan lalu menyatakan dapat memangkas peringkat utang RI sekiranya cadangan devisa kembali tergerus di bawah ambang batas rata-rata negara berperingkat BBB, yakni setara 5 bulan pembayaran impor dan utang luar negeri.

Pada hari ini, fokus pelaku pasar tertuju pada publikasi data cadangan devisa Indonesia teranyar. Cadangan devisa nasional tercatat menyusut berturut-turut dalam lima bulan pertama tahun ini hingga berada pada posisi US$144,9 miliar atau setara 5,5 bulan pembiayaan impor dan utang luar negeri.

Analisis Teknikal Pergerakan Rupiah

Berdasarkan indikator teknikal, pergerakan nilai tukar rupiah terpantau masih menghadapi risiko pelemahan lanjutan pada hari ini. Target koreksi paling dekat diperkirakan dapat menembus level support pertama pada posisi Rp18.000/US$.

Apabila level psikologis tersebut berhasil ditembus pasca tekanan, mata uang rupiah berpotensi melanjutkan depresiasi ke rentang harga Rp18.050/US$. Target pelemahan berikutnya diproyeksikan tertahan pada area Rp18.100/US$ hingga mencapai posisi Rp18.200/US$.

Sementara itu, garis tren atau trendline sebelumnya pada kerangka waktu harian kini beralih fungsi menjadi area resistance psikologis potensial di level Rp17.950/US$. Jika terjadi pembalikan arah, target penguatan lanjutan rupiah berada pada posisi Rp17.900/US$.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author