Rupiah Melemah Terbatas ke Posisi Rp17.925 per Dolar AS
Nilai kontrak rupiah di pasar luar negeri mengalami pelemahan terbatas sebesar 0,07 persen ke posisi Rp17.925 per dolar AS pada Jumat (12/6/2026) pukul 07:58 WIB.
Pelemahan mata uang garuda ini terjadi setelah sebelumnya sempat terdepresiasi 0,09 persen ke level Rp17.928 per dolar AS, dilansir dari Bloomberg Technoz.
Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh pasar energi global karena harga minyak mentah sebesar US$90 per barel masih melampaui asumsi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2026.
Kondisi Indonesia sebagai net importir minyak membuat lonjakan harga ini berpotensi membengkakkan nilai kompensasi serta subsidi energi, sekaligus memperbesar kebutuhan devisa impor.
Guna menekan defisit fiskal akhir tahun, pemerintah menyesuaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax menjadi Rp16.250 per liter, sebuah langkah yang direspons positif oleh pelaku pasar.
Langkah penghematan lain berupa pengurangan kebutuhan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp100 hingga Rp120 triliun juga diproyeksikan mampu menekan potensi defisit.
Pemerintah melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi telah memberikan sinyal terkait adanya potensi penyesuaian anggaran melalui perhitungan lapangan yang lebih cermat tersebut.
Namun, para pelaku pasar masih mengkhawatirkan masalah operasional seperti ekspansi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melebihi target dari sisi tata kelola.
Sentimen fiskal juga dipengaruhi oleh penarikan utang baru pemerintah senilai Rp386 triliun hingga Mei 2026 di tengah aksi jual investor asing pada pasar saham dan obligasi.
Investor asing mencatatkan aksi jual bersih saham senilai US$14 juta secara harian, serta melepas obligasi Indonesia sebesar US$51 juta secara harian pada Rabu (10/6/2026).
Sebaliknya, Danantara memberikan sentimen positif setelah sukses menghimpun dana US$1,5 miliar melalui penerbitan obligasi global pertamanya dengan imbal hasil 5,35 persen.
Kondisi pasar Asia bergerak variatif, di mana won Korea Selatan menguat 0,79 persen dan indeks Kospi melonjak 7 persen berkat meredanya kekhawatiran geopolitik Amerika Serikat dan Iran.
"Meski jalan menuju penyelesaian kemungkinan tidak mulus, skenario dasar kami adalah diplomasi pada akhirnya menang sehingga investor dapat kembali fokus pada fundamental ekonomi yang kuat dan pertumbuhan laba yang solid," kata Ulrike Hoffmann-Burchardi dari UBS.
Meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah ini berhasil menurunkan tekanan pada pasar energi global dan mengalihkan fokus investor pada tren investasi berbasis kecerdasan buatan.