Rupiah Melemah ke Rp17.860 Per Dolar AS pada Selasa Pagi
Nilai tukar rupiah dibuka melemah sebesar 0,16 persen ke posisi Rp17.860 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (23/6/2026) pagi. Dilansir dari Bloombergtechnoz, pelemahan mata uang garuda ini terjadi di tengah menguatnya indeks dolar AS yang dipicu oleh kebijakan moneter hawkish dari bank sentral Federal Reserve. Kondisi pasar global menunjukkan indeks dolar AS bertahan kuat pada level 101,01, meskipun harga minyak mentah dunia mulai mereda di bawah level US$80 per barel.
Penguatan mata uang AS tersebut memberikan dampak yang bervariasi terhadap pergerakan mata uang di kawasan Asia. Beberapa mata uang Asia tercatat mengalami penguatan karena memiliki ketahanan eksternal yang solid, seperti ringgit Malaysia yang menguat 0,3 persen. Tren positif juga diikuti oleh dolar Taiwan sebesar 0,12 persen, serta yuan China dan won Korea Selatan yang masing-masing naik 0,01 persen.
Won Korea Selatan mampu menguat berkat kinerja ekspor yang tetap kokoh pada awal Juni, meskipun sempat tertekan ketidakpastian geopolitik antara AS dan Iran. Sebaliknya, pelemahan akibat penguatan dolar AS juga dialami oleh peso Filipina, baht Thailand, yen Jepang, dan dolar Singapura.
Fluktuasi yang beragam di pasar keuangan Asia ini mengindikasikan kekhawatiran investor mengenai situasi geopolitik AS-Iran yang belum sepenuhnya mereda. Namun, posisi ketahanan ekonomi Indonesia dinilai masih relatif lebih baik dibandingkan dengan beberapa negara berkembang lainnya. Langkah Bank Indonesia yang telah menaikkan suku bunga acuan dengan total 100 bps sejak Mei berpotensi besar menjaga daya tarik aset domestik. Saat ini, tingkat imbal hasil instrumen keuangan dalam negeri, termasuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Utang Negara (SUN), masih kompetitif untuk menahan keluarnya modal asing.
Indikator minat investor terhadap aset rupiah di tengah rezim suku bunga global yang tinggi akan langsung diuji melalui lelang SUN yang digelar hari ini. Pemerintah menargetkan jumlah indikatif sebesar Rp36 triliun dalam lelang surat utang tersebut.