Rupiah Melemah ke Rp17.968 per Dolar AS pada Juli Berjalan
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah 0,39 persen ke posisi Rp17.952/US$ pada perdagangan Rabu (1/7/2026) pagi akibat tekanan penguatan mata uang AS dan kontraksi data manufaktur domestik.
Pelemahan mata uang Garuda terpantau terus berlanjut secara jangka pendek, berdasarkan data yang dilansir dari Bloomberg Technoz. Nilai tukar rupiah kembali terdepresiasi sebesar 0,48 persen hingga menyentuh level Rp17.968/US$ pada pukul 09:10 WIB.
Koreksi mata uang lokal tersebut dipicu oleh rilis Purchasing Manufacturing Index (PMI) Indonesia versi S&P Global yang berada di zona kontraksi pada level 46,9. Catatan performa industri pengolahan nasional ini menjadi capaian paling rendah sejak periode Juni 2025.
Tekanan terhadap aset domestik juga diperberat oleh proyeksi konsensus Bloomberg terkait normalisasi kinerja ekspor Indonesia. Laporan perdagangan yang dijadwalkan rilis siang ini diperkirakan hanya tumbuh 3,5 persen secara tahunan, menurun drastis dari bulan sebelumnya yang mencapai 21,98 persen.
Situasi pasar regional menunjukkan keperkasaan indeks dolar AS di level 101,3 yang memicu pelemahan mayoritas mata uang Asia. Won Korea Selatan mencatatkan pelemahan terdalam, disusul oleh peso Filipina, baht Thailand, dolar Singapura, yuan offshore, yuan China, yen Jepang, serta ringgit Malaysia yang berbalik turun 0,2 persen.
Sikap hati-hati para pelaku pasar di kawasan Asia dipengaruhi oleh antisipasi rilis data ketenagakerjaan AS pada Kamis malam waktu setempat. Konsensus pasar memproeksikan penciptaan lapangan kerja Juni melambat ke angka 114 ribu dibandingkan realisasi Mei sebesar 172 ribu.
Fokus pasar saat ini lebih tertuju pada kepastian prospek kebijakan suku bunga acuan The Fed dibandingkan fluktuasi harga minyak dunia. Pergerakan rupiah offshore sendiri sudah sempat menyentuh level Rp18.022/US$ dalam sesi perdagangan intraday pukul 09:10 WIB setelah dibuka melemah.