Rupiah Ambles ke Rp17.706 per Dolar AS Akibat Sentimen Negatif Pasar
Nilai tukar rupiah ambles ke level Rp17.706 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (19/5) pagi akibat lambatnya respons pemerintah dalam mengatasi sentimen negatif pasar. Berdasarkan data Bloomberg pukul 09:09 WIB, mata uang Indonesia melemah sebesar 38 poin atau 0,22 persen yang menjadi rekor terburuk sepanjang masa.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan bahwa situasi pergerakan mata uang Garuda saat ini masih berada dalam tren yang kurang menguntungkan.
“Sentimen rupiah masih sangat negatif, oleh tidak adanya respons yang jelas dan konkret dari pemerintah,” ujar Lukman Leong, Analis mata uang Doo Financial Futures kepada kumparan.
Ia menambahkan bahwa mata uang rupiah sebenarnya memiliki peluang untuk menguat setelah adanya kepastian mengenai situasi geopolitik global di Timur Tengah.
“Walau seharusnya rupiah bisa menguat hari ini karena tekanan dolar yang mereda, indeks dolar AS turun merespons penundaan penyerangan AS ke Iran,” kata Lukman Leong.
Meskipun demikian, ia memperkirakan laju pelemahan mata uang nasional masih dapat diredam melalui kebijakan moneter yang agresif dari bank sentral.
“RDG BI besok diperkirakan akan menaikkan suku bunga, sedikit banyak menahan pelemahan rupiah,” ujarnya.
Di sisi lain, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyoroti dampak dari pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai situasi pelemahan nilai tukar ini saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5).
“Faktor dari internal itu sebenarnya tiap pidato presiden itu yang mengatakan kalau orang desa itu tidak mengenal dolar,” ujar Ibrahim Assuaibi, Pengamat mata uang.
Menurutnya, pesan yang disampaikan kepada publik seharusnya fokus pada langkah strategis dalam menjaga stabilitas nilai tukar keuangan negara di tingkat global.
“Ya walaupun DPR mengatakan itu untuk menenangkan pasar, tapi bagi masyarakat yang intelek ya itu mengolok-olok pasar,” kata Ibrahim Assuaibi.
Ia berpendapat bahwa kepala negara semestinya memberikan pernyataan yang mampu memberikan kepastian hukum dan ekonomi bagi para pelaku pasar modal.
“Seharusnya Presiden mengatakan bahwa saat ini rupiah lagi melemah, masyarakat di desa sabar menunggu kebijakan-kebijakan pemerintah agar rupiah ini kembali lagi stabil,” ujarnya.
Sebelumnya dalam acara peresmian di Jawa Timur tersebut, Presiden Prabowo Subianto menyatakan keyakinannya bahwa fluktuasi kurs mata uang asing tidak akan mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat di daerah perdesaan secara langsung.
“Jadi saya yakin sekarang ada yang selalu sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa rupiah begini, dolar begini, orang rakyat di desa nggak pakai dolar, kok,” kata Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.