Analis Nilai Ruang Penguatan IHSG Masih Terbatas sampai Akhir Tahun
Sejumlah analis berpendapat bahwa ruang kenaikan atau upside Indeks Saham Gabungan (IHSG) masih mengalami keterbatasan hingga akhir tahun 2026 akibat minimnya sentimen pendorong dari investor asing, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz.
Kondisi pasar modal dalam negeri saat ini masih menunjukkan pergerakan yang landai dengan nilai transaksi yang menyusut. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa penguatan indeks yang terjadi belakangan ini belum ditopang oleh partisipasi pasar yang kuat.
"Ruang rerating tetap terbatas karena investor asing berbasis indeks belum punya alasan kuat untuk menambah eksposur sebelum ada kejelasan November," kata Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia lewat catatannya pada Rabu (8/7/2026).
Liza menambahkan bahwa nilai transaksi yang menyusut menunjukkan conviction pasar masih rendah. Ia menduga sebagian dana kini bergeser ke instrumen defensif seperti money market fund, deposito, obligasi pemerintah tenor pendek-menengah, dolar, atau emas.
"Di saham, investor cenderung memilih big caps yang likuid, free float lebih jelas, governance lebih baik, neraca kuat, serta punya arus kas dan dividen stabil," tutur Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Pihaknya berharap regulator dapat menerapkan reformasi bursa saham Indonesia secara konsisten agar menghasilkan perbaikan nyata.
"Dalam satu bulan ke depan, akan sangat membantu jika regulator bisa menyajikan bukti before and after implementasi aturan baru," kata Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Pada penutupan perdagangan Selasa sebelumnya, IHSG berakhir di level 5.986 atau menguat sebesar 1,19% dengan volume perdagangan melibatkan 22,36 miliar saham senilai Rp10,39 triliun dari frekuensi 1,67 juta kali transaksi.
"Penguatan ditopang kenaikan cadangan devisa Indonesia menjadi US$145,6 miar, rencana insentif PPN DTP untuk sektor properti, serta ekspektasi kebijakan pemerintah yang lebih pro-pertumbuhan," kata Reza Diofanda, technical analyst BRI Danareksa Sekuritas lewat catatannya pada Rabu (8/7/2026).
Reza menilai nilai transaksi yang masih rendah di kisaran Rp10,37 triliun mengindikasikan investor masih bersikap selektif di pasar saham.
"Secara teknikal, IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan dengan support 5.734 dan resistance psikologis 6.000," kata Reza Diofanda, technical analyst BRI Danareksa Sekuritas.
Di sisi lain, pergerakan indeks juga dipengaruhi oleh langkah MSCI Inc yang membekukan saham Indonesia dalam review indeks Agustus 2026, termasuk peningkatan foreign inclusion factors (FIF) dan number of shares (NOS) dalam MSCI Global Investable Market Indexes.
"MSCI akan tetap menghapus saham-saham yang diidentifikasi oleh otoritas Indonesia sebagai bagian dari kerangka High Shareholding Concentration," dikutip dari pengumuman terbaru MSCI pada Selasa (7/7/2026).
Meskipun MSCI tetap mempertahankan status bursa saham Indonesia di emerging markets, penyedia indeks global tersebut menilai kualitas informasi dan transparansi pasar domestik mengalami penurunan.
"Pengumuman MSCI ini menjadi momentum untuk terus melanjutkan, memperkuat, dan mengakselerasi agenda-agenda reformasi pasar modal yang telah kita canangkan sejak awal tahun ini," kata Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK dalam keterangannya pada Rabu (24/6/2026).