Pakar Inggris Ingatkan Risiko Pemberian Obat ADHD Berlebihan pada Anak
Pemberian resep obat secara massal pada anak dengan kondisi Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD di Inggris kini semakin masif dinilai sejumlah ahli kurang efektif serta mengkhawatirkan bagi perkembangan anak.
Fenomena penanganan medis ini memicu kekhawatiran karena memicu dampak yang lebih buruk, sebagaimana dilansir dari HaiBunda pada Rabu, 3 Juni 2026. Kritik terhadap tren tersebut salah satunya disampaikan oleh Dr. Gabor Maté, seorang pakar Gangguan Defisit Perhatian atau ADD.
Maté memandang bahwa gangguan perkembangan saraf dan mental ini tidak boleh dipandang sebagai masalah medis semata. Faktor lingkungan, tekanan ekonomi sosial pada keluarga, hingga pola asuh anak masa kini dinilai ikut memicu munculnya perilaku sulit fokus, hiperaktif, dan impulsif.
Mantan praktisi medis tersebut juga membagikan pengalamannya terkait pemberian intervensi farmakologis untuk mengendalikan gejala perilaku menyimpang tersebut pada pasien anak.
"Sebagai dokter, saya juga pernah meresepkan obat-obatan tersebut. Namun setidaknya, obat tersebut hanya membantu mengatur gejala ADHD dalam jangka pendek. Obat-obatan ini tidak benar-benar memperbaiki kondisi secara menyeluruh," kata Maté.
Menurut penjelasan lebih lanjut dari Maté yang dikutip dari Express, faktor genetik kemungkinan hanya memengaruhi tingkat sensitivitas anak terhadap lingkungan sekitar. Anak yang lahir dengan sensitivitas tinggi cenderung lebih mudah menyerap stres dari tekanan emosional orang tua.
The Royal Children's Hospital Melbourne turut mengingatkan orang tua untuk mewaspadai efek samping obat jangka panjang. Tanda-tanda reaksi yang perlu dicermati meliputi sakit perut, muntah, sakit kepala, pusing, hingga risiko reaksi alergi berat atau anafilaksis.