Detektif Jubun Ungkap Realitas Profesi Investigator Swasta di Indonesia

Share

Investigator swasta Detektif Jubun mengungkapkan bahwa realitas profesi detektif di Indonesia tidak memiliki kewenangan hukum maupun akses data rahasia seperti dalam film. Penjelasan mengenai batasan kerja tersebut ia sampaikan dalam sebuah tayangan podcast YouTube milik Grace Tahir pada Jumat (22/5/2026), sebagaimana dilansir dari Detik Hot.

"Detektif itu yang di Indonesia ya, itu hanya penyebutan. Siapapun bisa menjadi detektif. Detektif yang model-model kita ini, itu hanya penyebutan," ujar Jubun dalam keterangannya, Jumat (22/5/2026).

Pekerjaan aslinya lebih tepat dikategorikan sebagai investigator swasta yang bergerak tanpa menggunakan kewenangan penegakan hukum resmi. Sektor bisnis ini mulanya berkembang secara tidak sengaja dari usaha penyedia jasa keamanan yang dikelolanya terdahulu.

"Berawal dari dulu ketika saya kerja menyediakan tenaga keamanan. Karena punya sumber daya, jadi ada teman-teman minta bantuan. Dari situ saya melihat ini bisnis bisa profit juga," kata Jubun.

Permintaan bantuan penelusuran tersebut terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu hingga membentuk tim operasional yang terorganisasi. Berdasarkan data operasionalnya, mayoritas pengguna jasa merupakan kalangan perempuan yang ingin mengusut dugaan ketidaksetiaan pasangan.

"Mereka datang ke kami bukan tidak tahu apa-apa. Mereka sudah punya banyak bukti-bukti. Hanya dia ingin membuktikan, ingin mendapatkan foto, video, atau momentum yang tepat," kata Jubun.

Tujuan para klien mengumpulkan bukti tersebut bervariasi, mulai dari sekadar penegasan mandiri hingga persiapan konfrontasi. Dalam mengeksekusi operasi pelacakan, tim investigator memanfaatkan kombinasi instrumen digital terbuka serta metode pengintaian fisik langsung.

"90 persen dari internet. Kita tidak hack, kita tidak membuka data ilegal. Kita hanya menggunakan data yang tersedia dan kreativitas dalam mendapatkan informasi," ucap Jubun.

Selain menyajikan hasil penelusuran fakta, Jubun memosisikan perannya sebagai penyedia saran psikologis bagi klien yang menghadapi krisis domestik. Fokus layanannya diarahkan untuk membantu memulihkan hubungan perkawinan alih-alih mendorong perceraian.

"Kami bukan hanya mengungkap. Kami juga mendampingi, memberi advice bagaimana menghadapi keluarga. Biasanya kami arahkan ke pembinaan dan pemulihan, bukan langsung perpisahan," ucap Jubun.

Meskipun pasar jasanya terus meluas, agensi investigasi ini menerapkan kebijakan seleksi ketat terhadap permohonan yang masuk. Jubun membatasi operasionalnya dengan menolak perkara yang berpotensi melanggar hak atau berniat buruk.

"Ketika kita melihat klien datang dengan niat yang tidak baik, kita tidak mau. Ada yang ingin mengambil anak dengan cara tidak benar. Itu pasti kita tolak," kata Jubun.

Ruang lingkup kerja timnya juga mencakup pelacakan kasus kehilangan orang serta penipuan berbasis romansa digital. Penyelidikan awal biasanya difokuskan pada analisis pergaulan terdekat dari target yang dicari.

"Kadang kita tidak langsung mencari orangnya. Kita mencari lingkarannya, teman-teman-nya. Dari situ kita bisa menemukan jejaknya," tutup Jubun.

Jubun menambahkan bahwa lonjakan kasus perselingkuhan serta penipuan asmara saat ini banyak dipicu oleh masifnya interaksi masyarakat melalui media sosial.

"Sekarang orang jatuh cinta cukup dari internet. Dari komentar-komentar saja bisa jadi hubungan. Di situ juga banyak penipuan terjadi," ujar Jubun.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author