Raphinha Tolak Dua Klub London demi Bergabung dengan Barcelona

Share

Penyerang sayap Barcelona, Raphinha, mengungkapkan bahwa dirinya sempat menolak tawaran menggiurkan dari dua klub raksasa London demi bergabung dengan Blaugrana pada bursa transfer musim panas 2022.

Keputusan meninggalkan Premier League tersebut diambil sang pemain demi mengikuti jejak para legenda asal Brasil di Spanyol, meskipun ia terus menghadapi rumor transfer dan ketertarikan dari klub Arab Saudi.

Pemain berusia 29 tahun itu kini menjadi pilar penting dalam proyek jangka panjang pelatih Hansi Flick di Barcelona setelah berhasil mempersembahkan trofi La Liga, Copa del Rey, hingga Spanish Super Cup.

"Saya mendapat tawaran dari tim Biru dan juga tim Merah dari London, tetapi keputusan terbaik dalam karier saya adalah bergabung dengan Barcelona," kata Raphinha kepada TNT Sports Brasil.

Di samping kisah transfernya, penggawa tim nasional Brasil ini juga membeberkan kekagumannya terhadap performa lini serang tim lain di kancah sepak bola modern.

"Ya, ia memiliki insting posisi yang luar biasa; ia bermain bagus dan mencetak gol. Saya memasukkannya ke dalam kategori pemain yang sangat hebat. Dia hampir jenius, tapi jenius sangat langka di level itu," ujar Raphinha saat ditanya mengenai striker Bayern Munich, Harry Kane.

Selain fokus pada level klub, kapten Barcelona ini tengah mempersiapkan diri menghadapi kompetisi Piala Dunia FIFA 2026 bersama rekan-rekan senegaranya.

"Neymar dan Lamine Yamal telah sepakat untuk final Brasil melawan Spanyol di Piala Dunia. Saya juga akan senang jika ada pertandingan seperti itu di final. Akan sangat bagus jika ada final Brasil melawan Spanyol," kata Raphinha mengenai laga impiannya.

Mantan pemain Leeds United ini menambahkan bahwa rivalitas domestik, termasuk dengan para pemain Real Madrid seperti Vinicius Jr dan Eder Militao, otomatis mencair saat berada di skuad Selecao.

"Saya tidak pernah perhatian hal itu, setidaknya tidak dalam kasus Vini dan saya, atau Rodrygo, Militão, dan Endrick. Ketika kami bergabung dengan tim nasional, persaingan klub praktis menghilang karena kami tahu kami di sini membela negara kami terlepas dari di mana kami bermain. Saya rasa itu tidak dipaksakan. Bukan berarti, ‘Saya harus masuk tim nasional dan saya harus mengesampingkan bagian itu.’ Tidak. Itu adalah sesuatu yang terjadi secara alami," ucap Raphinha.

Ketegangan antarpemain dinilai hanya terjadi selama pertandingan tensi tinggi seperti El Clasico di level klub.

"Kami tiba di kamp pelatihan dan kami akur. Bahkan di El Clásico, kami saling menghormati; masing-masing dari kami membela tim kami dengan segala kemampuan yang kami miliki, tetapi ketika kami berada di tim nasional, persaingan itu hilang," tutur Raphinha.

Raphinha juga tidak memungkiri adanya perasaan emosional yang fluktuatif menjelang turnamen akbar antarnegara tersebut dimulai.

"Kami mengesampingkan klub dan fokus pada tim nasional. Terkadang kami memang memanas, tetapi itu normal. Jika El Clásico tidak memanas, itu bukanlah El Clásico," kata Raphinha.

Intensitas kecemasan sang penyerang sayap diprediksi akan terus meningkat seiring semakin dekatnya jadwal pertandingan pembuka.

"Saya sangat cemas, tetapi hanya ketika Piala Dunia semakin dekat. Misalnya, saya merasa cemas tentang Piala Dunia saat ini, tetapi itu tidak sama dengan berada 15 hari lagi menuju turnamen atau sehari sebelum pertandingan pembuka kami," ujar Raphinha.

Saat ini Barcelona sendiri dilaporkan sedang mencari penyerang baru untuk mengantisipasi kepergian Robert Lewandowski yang kontraknya akan segera berakhir.

"Ini adalah rasa gugup yang wajar tentang bermain di turnamen ini. Kita akhirnya merasa seperti ini karena Piala Dunia adalah Piala Dunia – tidak mungkin menganggapnya enteng. Kecemasan dan kegugupan ini wajar, terlepas dari level masing-masing pemain," kata Raphinha menutup wawancara.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author