Raisa Tampil Memukau dan Sampaikan Pesan Penting di Pagelaran Sabang Merauke 2026
Raisa tampil memukau sebagai tokoh Srikandi dalam Pagelaran Sabang Merauke (PSM) 2026 yang digelar di Indonesia Arena, Jakarta Pusat, pada Jumat (21/8/2026) malam.
Ibu satu anak ini berhasil menyajikan pertunjukan selama tiga jam dengan sempurna sambil menyampaikan pesan penting terkait kekerasan yang terjadi di Indonesia.
Pagelaran Sabang Merauke yang telah berlangsung sejak 2022 ini terus berkembang dengan skala yang besar, mencapai 1.500 pelaku seni pada 2025, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Raisa menyatakan kebahagiaannya karena pesan yang ia sampaikan tidak hanya diterima secara baik oleh penonton, tetapi juga menyentuh hati mereka.
"Aku juga seneng karena bisa mengemban message yang begitu berat tapi juga begitu penting di dalam Pagelaran Sabang Merauke ini. Dan dari tadi juga aku merasa ketika dialognya Mas Memet yang disampaikan oleh Srikandi tuh aku utarakan, penonton tuh bener-bener tepuk tangannya pakai hati banget gitu loh," ujar Raisa.
Dia menegaskan bahwa penerimaan pesan tersebut bukan hanya karena momen yang tepat, tapi karena memang pesan itu sendiri diterima oleh penonton.
"Bukan sekedar karena oh itu momennya lagi bagus, tapi karena memang message-nya itu sendiri diterima sama penonton gitu," kata Raisa.
Ia juga menyampaikan kebanggaannya bisa membawakan pesan penting di panggung yang kaya akan budaya Nusantara, terutama dalam situasi Indonesia saat ini.
"Jadinya aku sangat bahagia, bukan sekedar karena aku berada di Pagelaran Sabang Merauke yang begitu kaya ini, tapi aku bangga karena bisa menyampaikan message yang begitu penting, terutama di keadaan Indonesia yang saat ini," sambungnya.
Dalam cerita Pagelaran Sabang Merauke 2026, tokoh Srikandi yang diperankan Raisa ditemani oleh Limbuk, Petruk, Bagong, Zie, dan Vanilla untuk menjelajahi berbagai hikayat perempuan Nusantara.
Mereka bertemu dengan tokoh-tokoh legendaris seperti Mande Rubayah, ibunda Malin Kundang, Dayang Sumbi, Mahadewi, dan Calonarang. Cerita juga menampilkan Yuyu Kangkang sebagai representasi ancaman terhadap kebudayaan Nusantara.