Putri Kerajaan Thailand Bajrakitiyabha Narendira Debyavati Meninggal Dunia
Kabar duka datang dari monarki Thailand setelah putri sulung Raja Maha Vajiralongkorn mengembuskan napas terakhirnya. Putri Kerajaan Thailand Bajrakitiyabha Narendira Debyavati, yang dikenal luas sebagai aktivis reformasi sistem penjara, dinyatakan meninggal dunia.
Seperti dilansir dari Bloombergtechnoz, kepastian mengenai wafatnya putri berusia 47 tahun tersebut disampaikan langsung melalui pernyataan resmi oleh Biro Rumah Tangga Kerajaan Thailand.
Pihak biro kerajaan menyebutkan bahwa Putri Bajrakitiyabha meninggal dunia pada Kamis malam di Rumah Sakit Memorial Raja Chulalongkorn yang berlokasi di Bangkok. Sebelum wafat, ia telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit sejak tahun 2022.
Kondisi kesehatan sang putri dilaporkan terus mengalami penurunan yang signifikan. Sejumlah tim medis telah memberikan penanganan maksimal, namun kondisi kesehatannya tetap memburuk akibat infeksi perut serta beberapa komplikasi medis lainnya.
Pihak istana memastikan bahwa seluruh rangkaian prosesi pemakaman bagi mendiang akan segera dipersiapkan. Seluruh tahapan upacara kedukaan bakal diselenggarakan dengan bentuk penghormatan tertinggi sesuai dengan tradisi agung Kerajaan Thailand.
Mendiang Putri Bajrakitiyabha sebelumnya sempat mendadak pingsan pada Desember 2022 ketika sedang melatih anjing peliharaannya untuk sebuah kompetisi. Insiden mendadak tersebut terjadi akibat adanya gangguan pada organ jantung sang putri.
Semenjak peristiwa penurunan kondisi fisik tersebut, pihak biro kerajaan mengonfirmasi bahwa fungsi organ vital sang putri terganggu. Almarhumah harus terus bergantung pada berbagai peralatan medis guna menopang fungsi paru-paru dan ginjalnya.
Wafatnya Putri Bajrakitiyabha memicu perhatian besar dari kalangan pengamat politik monarki. Hal ini terjadi karena Raja Vajiralongkorn belum menentukan sosok penerus takhta resmi, sehingga mendiang sebelumnya dipandang sebagai calon kuat pewaris takhta.
Jika penunjukan tersebut sempat terjadi, sang putri memiliki peluang besar untuk mencatatkan namanya dalam sejarah. Ia berpotensi menjadi ratu atau penguasa monarki berjenis kelamin perempuan pertama bagi negara Asia Tenggara tersebut.
Putri Bajrakitiyabha lahir sebagai anak tertua dari total tujuh bersaudara dari tiga pernikahan Raja Vajiralongkorn terdahulu. Struktur ini ada sebelum sang raja memutuskan menikah dengan istri keempatnya saat ini, Ratu Suthida.
Mendiang merupakan anak tunggal dari jalinan pernikahan Raja Vajiralongkorn dengan istri pertamanya, Putri Soamsawali, yang juga merupakan sepupunya. Sang putri merupakan cucu perempuan pertama dari mendiang Raja Bhumibol Adulyadej dan Ratu Sirikit yang wafat tahun lalu.
Raja Bhumibol Adulyadej sendiri tercatat dalam sejarah sebagai penguasa monarki dengan masa jabatan terlama ketiga di dunia. Posisi masa jabatan terlama tersebut berada di bawah Raja Louis XIV dari Prancis dan Ratu Elizabeth II dari Inggris.
Di lingkungan domestik, media lokal sering menyematkan julukan sang putri ahli hukum kepada Bajrakitiyabha. Julukan ini muncul berkat latar belakang akademisnya yang berhasil meraih gelar doktor di bidang hukum dari Cornell University, Amerika Serikat.
Selepas menyelesaikan studi di luar negeri, ia menjadi advokat berkualifikasi resmi di lingkungan hukum Thailand. Pada tahun 2006, lembaga bernama The Bajrakitiyabha Fund for Legal Education didirikan guna menyediakan beasiswa studi hukum bagi mahasiswa lokal.
Kiprah Diplomatik dan Advokasi Tahanan Perempuan
Eksistensi Putri Bajrakitiyabha di sektor publik Thailand telah dimulai sejak awal era tahun 2000-an. Salah satu rekam jejak karier diplomatiknya yang cemerlang adalah saat dipercaya mengemban tugas sebagai Duta Besar Thailand untuk Austria.
Pada periode masa jabatan yang sama, ia mengemban tugas sebagai perwakilan resmi negara untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia aktif dalam berbagai kegiatan organisasi internasional yang berpusat di kota Wina.
Di dalam struktur pemerintahan domestik, sang putri mendedikasikan dirinya untuk mengabdi pada Kantor Jaksa Agung Thailand. Ia juga menerima mandat sebagai duta persahabatan bagi lembaga UN Women serta Kantor PBB untuk Urusan Narkoba dan Kejahatan (UNODC).
Fokus kemanusiaan terbesar sang putri selama hidupnya tertuju pada upaya reformasi institusi pemasyarakatan. Ia menaruh perhatian yang sangat tinggi terhadap perbaikan regulasi dan peningkatan kesejahteraan hidup bagi para narapidana perempuan.
Langkah nyata dari kepedulian tersebut dibuktikan lewat inisiasi sebuah proyek kerajaan bernama Kamlangjai atau Inspirasi. Program ini bergerak untuk mendampingi perempuan serta anak-anak di dalam penjara agar siap berintegrasi kembali dengan masyarakat.
Ia juga memimpin gerakan kampanye advokasi yang berhasil mendorong Majelis Umum PBB mengadopsi Aturan Bangkok (The Bangkok Rules) pada 2010. Aturan ini menjadi pedoman internasional resmi untuk meningkatkan standar kualitas hidup tahanan perempuan.
Aktivitasnya di bidang pertahanan ditandai saat raja menganugerahinya pangkat Jenderal Angkatan Darat pada tahun 2021. Selanjutnya pada Agustus 2025, ia ditunjuk sebagai wakil komandan Komando Keamanan Kerajaan untuk mengawal pribadi sang raja.