Purbaya Sebut Pelemahan Rupiah dan IHSG Akibat Miskonsepsi Pasar

Share

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai bahwa merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat beserta penurunan Indeks Harga Saham Gabungan terjadi akibat adanya salah persepsi di pasar keuangan pada Jumat (5/6/2026).

Dilansir dari Bloomberg Technoz, situasi pasar modal Indonesia sedang tertekan setelah Indeks Harga Saham Gabungan melorot 1,7 persen ke level 5.839 dan posisi jual bersih investor asing menembus Rp1,27 triliun pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Sentimen negatif ini diperparah oleh depresiasi mata uang garuda yang terus tertahan di zona lemah pada level Rp18.020 per dolar Amerika Serikat.

Menanggapi kondisi tersebut, Purbaya menjelaskan adanya anggapan keliru dari analis mengenai pengelolaan anggaran negara. Sejumlah pihak dituding sengaja mencari kesalahan terkait defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diisukan melampaui tiga persen dari Produk Domestik Bruto, serta program Makan Bergizi Gratis milik Presiden Prabowo Subianto yang dinilai buruk.

"Jadi kalau saya pikir ini adalah misconception dari market atau analis yang menganggap kita menjalankan fiskal dengan jelek atau Pak Prabowo menjalankan kebijakan fiskal tidak hati-hati," kata Purbaya, Menteri Keuangan.

Purbaya meluruskan isu penurunan peringkat utang Indonesia oleh lembaga internasional dengan menyatakan bahwa kondisi S&P justru membaik setelah pertemuan langsung. Ia menegaskan kembali komitmen pemerintah dalam menjaga batas aman defisit anggaran serta penerapan kebijakan fiskal yang pruden di bawah arahan langsung presiden.

"Kami tahu apa yang kami kerjakan, harusnya kalau kita bereskan rupiahnya kan karena mulanya dari sini [market], tapi enggak sekarang gara-gara rupiah bisa keganggu jadi terbolak-balik. Emang ada sentimen negatif di pasar yang harus kita perbaiki," ungkap Purbaya, Menteri Keuangan.

Pihak Kementerian Keuangan memastikan bahwa fundamental ekonomi nasional saat ini masih berada dalam kondisi yang sangat sehat. Fleksibilitas kebijakan tetap dipertahankan agar target defisit APBN tahun depan dapat dikendalikan secara ketat pada kisaran 1,8 persen hingga 2,4 persen dari Produk Domestik Bruto.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author