Ciptadana dan JP Morgan Proyeksikan Laba ANTM Meningkat

Share

PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) diproyeksikan mengalami peningkatan laba bersih yang signifikan untuk periode 2026 hingga 2028 setelah kinerja kuartal I 2026 melampaui ekspektasi pasar, dilansir dari Bloomberg Technoz pada Kamis (2/7/2026). Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Ryan Santoso merevisi naik proyeksi laba bersih emiten tambang pelat merah ini masing-masing sebesar 51,4 persen, 58,6 persen, dan 60,9 persen sehingga laba 2026 diperkirakan mencapai Rp11,95 triliun. "Kami meningkatkan proyeksi laba FY26/27/28 setelah kinerja kuartal I-2026 yang lebih kuat dari perkiraan. Pada proyeksi terbaru kami, ANTM diperdagangkan pada valuasi yang masih menarik di tengah siklus peningkatan laba perusahaan," kata Ryan dalam risetnya, dikutip Kamis (2/7/2026).

Pertumbuhan kinerja ini utamanya dipicu oleh pemulihan bisnis emas, di mana perseroan membidik produksi emas sebesar 935 kilogram dan volume penjualan mencapai 43 hingga 45 ton pada tahun ini.

“Kekurangan pasokan bahan baku yang terjadi pada paruh kedua 2025 secara bertahap mulai normal setelah ANTM memperoleh pasokan alternatif dari sumber tambang lain," tulis Ryan. Selain komoditas emas, lini bisnis bijih nikel juga dinilai tetap menjadi penggerak utama profitabilitas perseroan seiring perolehan persetujuan RKAB sebesar 18,1 juta wet metric ton (wmt) pada 2026.

"Investment case ANTM lebih bergantung pada kemampuan perusahaan memaksimalkan penjualan bijih nikel ke pihak ketiga dibanding pemulihan bisnis feronikel," imbuh Ryan. Di sisi lain, JP Morgan turut mempertahankan rekomendasi overweight untuk saham ANTM dengan proyeksi laba bersih mencapai Rp12,38 triliun pada 2026, yang berada sekitar 28 persen hingga 43 persen di atas konsensus pasar.

"Secara keseluruhan kami tetap menyukai saham ini dan percaya sebagian besar kabar buruk telah tercermin pada harga saham saat ini," tulis analis JP Morgan Benny Kurniawan dalam risetnya. Benny menambahkan bahwa terdapat faktor-faktor fundamental kuat yang menjaga kinerja perseroan, termasuk kekuatan harga bijih nikel saprolit dan imbal hasil dividen yang menarik bagi investor. "Pada akhirnya ada tiga faktor yang menopang keyakinan kami terhadap ANTM, yakni harga bijih nikel yang tetap kuat, potensi dividend yield yang menarik, dan sensitivitas yang terbatas terhadap pergerakan harga emas," ungkap Benny.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author