Ekonom Proyeksikan Inflasi Mei 2026 Meningkat Akibat Pelemahan Rupiah

Share

Laju inflasi tahunan Indeks Harga Konsumen atau IHK pada Mei 2026 diperkirakan meningkat ke kisaran 2,95 persen hingga 3,05 persen dengan titik tengah 2,99 persen akibat tekanan eksternal, dilansir dari Bloomberg Technoz pada Selasa (2/6/2026).

Proyeksi lonjakan dari capaian inflasi bulan sebelumnya yang berada di level 2,42 persen secara tahunan tersebut dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah dan peningkatan harga sejumlah komoditas domestik.

Peneliti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran atau FITRA, Badiul Hadi memaparkan bahwa fluktuasi nilai tukar mata uang berimbas langsung pada biaya produksi di dalam negeri.

"Pelemahan rupiah di kisaran Rp17.700-Rp17.900 per dolar AS memberikan tekanan terhadap harga domestik, terutama kenaikan biaya impor bahan baku, energi, dan logistik," ujar Badiul, Peneliti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA).

Faktor penekan utama IHK bersumber dari penyesuaian tarif transportasi, pergerakan harga bahan bakar minyak non-subsidi, serta komoditas pangan hortikultura. Di sisi lain, kinerja perdagangan luar negeri Indonesia pada April 2026 diperkirakan masih mempertahankan status surplus, meski nilainya menyusut secara signifikan.

"Perkiraan saya surplus di kisaran US$ 1,4 miliar – US$1,6 miliar, turun dari surplus Maret sebesar US$3,32 miliar," kata Badiul, Peneliti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA).

Penyusutan surplus perdagangan luar negeri ini terjadi karena aktivitas impor untuk barang modal, bahan baku, dan energi tumbuh lebih agresif. Kondisi tersebut diperparah oleh ekspor nasional yang masih terdampak oleh moderasi harga komoditas global.

"Catatan penting, munculnya kombinasi antara inflasi tang meningkat dan surplus perdagangan yang menyempit. Ini menunjukan fondasi ekonomi mengalami pelemahan, ruang bantalan ekonomi mulai berkurang," tegas Badiul, Peneliti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA).

Hilirisasi komoditas berbasis sumber daya alam yang menopang kinerja perdagangan dinilai sangat rentan terhadap dinamika permintaan negara mitra dagang serta fluktuasi harga global. Guna meredam dampak inflasi barang impor, pemerintah bersama Bank Indonesia disarankan memperkuat pasokan devisa hasil ekspor dan melakukan intervensi nilai tukar secara terukur.

Langkah stabilitas pasokan pangan melalui operasi pasar perlu diintensifkan menjelang siklus kenaikan permintaan musiman. Pemerintah juga didorong untuk mempercepat hilirisasi industri manufaktur bernilai tambah tinggi agar struktur perdagangan tidak bergantung penuh pada siklus komoditas mentah.

Kebijakan moneter ke depan diharapkan mampu menyeimbangkan stabilitas harga dengan momentum pertumbuhan agar tidak mengoreksi performa sektor riil serta investasi domestik.

"Jika tidak, maka ekonomi akan rapuh dan dapat berimbas pada gejolak ekonomi dan sosial di tengah masyarakat," tegas Badiul, Peneliti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA).

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author