Proses Geologi Mantel Bumi Ungkap Alasan Antartika Membeku Lebih Cepat

Share

Penurunan kadar karbon dioksida (CO2) di atmosfer selama puluhan tahun diyakini menjadi penyebab utama membekunya Antartika sekitar 34 juta tahun lalu. Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan adanya keterlibatan faktor penting lain berupa pergerakan lempeng benua dan proses geologi di dalam perut Bumi. Dikutip dari Detik iNET, studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science mengungkapkan bahwa gelombang di mantel Bumi (mantle waves) mengangkat daratan Antartika Timur.

Proses ini membentuk pegunungan dan dataran tinggi yang memungkinkan salju bertahan sepanjang tahun hingga menjadi lapisan es raksasa. Fenomena tersebut terjadi jauh sebelum Kutub Utara ikut membeku, saat suhu Bumi diperkirakan masih sekitar 5 derajat Celsius lebih hangat daripada sekarang. Wilayah Arktik sendiri baru memiliki lapisan es permanen puluhan juta tahun kemudian, yang selama ini menjadi misteri besar dalam ilmu iklim.

Banyak ilmuwan sebelumnya beranggapan bahwa penurunan CO2 sudah cukup untuk menjelaskan pembentukan lapisan es Antartika. Akan tetapi, hasil riset menunjukkan apabila hanya CO2 yang berpengaruh, kedua kutub seharusnya membeku dalam waktu yang hampir bersamaan.

Prof. Thomas Gernon, Profesor Ilmu Kebumian di University of Southampton sekaligus penulis utama penelitian, menyatakan proses geologi memberikan keuntungan tersendiri bagi Antartika dibandingkan Kutub Utara. "Jika penurunan kadar CO2 terjadi sendirian, Anda akan mengharapkan kedua kutub merespons secara lebih simetris. Sebaliknya, Antartika memperoleh keunggulan besar karena proses geologi mengangkat daratannya ke ketinggian yang lebih tinggi sehingga menjadi lebih dingin," ujar Gernon seperti dikutip dari IFL Science, Kamis (9/7/2026).

Melalui model komputer untuk merekonstruksi perubahan bentang alam selama 100 juta tahun terakhir, tim peneliti menemukan proses ini bermula saat superbenua Gondwana terpecah. Ketika Antartika dan Afrika saling menjauh pada Periode Jura sekitar 201-143 juta tahun lalu, muncul gangguan lambat di mantel Bumi. Gelombang tersebut secara perlahan mengangkat kerak Bumi di Antartika Timur hingga membentuk tebing pesisir, dataran tinggi, serta Pegunungan Gamburtsev. Pegunungan ini sekarang telah terkubur di bawah lapisan es dengan ketebalan lebih dari satu kilometer.

Sebagian besar wilayah Antartika Timur telah mencapai ketinggian sekitar 1,5 hingga 2 kilometer pada 45 juta tahun lalu. Ketinggian tersebut menjadi batas yang memungkinkan salju bertahan sepanjang tahun dan berkembang menjadi lapisan es permanen. Dr.

Thea Hincks, Senior Research Fellow di University of Southampton sekaligus salah satu penulis studi, menyebutkan bahwa model komputer mereka mampu merekonstruksi pembentukan bentang alam tersebut secara akurat. "Model kami berhasil menggambarkan evolusi tebing pesisir setinggi dua kilometer, dataran tinggi, dan pegunungan di pedalaman yang pada akhirnya menjadi tempat awal terbentuknya Lapisan Es Antartika Timur," kata Hincks.

Sementara itu, Dr. Guy Paxman yang merupakan penulis studi sekaligus Royal Society University Research Fellow di Durham University, menjelaskan besarnya peran topografi dalam pembentukan gletser.

"Topografi sangat penting bagi proses pembentukan lapisan es. Suhu udara dapat turun hingga sekitar 10 derajat Celsius setiap kenaikan ketinggian 100 meter," ujarnya. Para peneliti menyimpulkan bahwa sejarah iklim Bumi tidak hanya dipengaruhi oleh atmosfer, tetapi juga oleh dinamika jauh di bawah permukaan planet.

Pergerakan lempeng tektonik dan pembentukan pegunungan terbukti menentukan kapan sebuah wilayah mencapai kondisi dingin untuk mempertahankan es dalam jangka panjang. Kondisi ini sekaligus menjawab alasan Kutub Utara membeku jauh lebih lambat. Berbeda dengan Antartika yang berbentuk benua dengan daratan tinggi, Kutub Utara sebagian besar merupakan samudra yang tidak memiliki bentang alam tinggi untuk membentuk lapisan es permanen sejak awal.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author