Promotor Antisipasi Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Harga Tiket Konser

Share

Sektor industri hiburan khususnya konser musik di Indonesia ikut menghadapi tekanan akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada Selasa (26/5/2026).

Dilansir dari Bloomberg Technoz, penyelenggara acara memastikan bahwa situasi ekonomi saat ini tidak akan serta-merta memicu lonjakan harga tiket konser tanpa adanya perhitungan yang matang.

Co-Founder dan COO PK Entertainment Group, Harry Sudarma menjelaskan bahwa fluktuasi nilai mata uang memang memberikan dampak langsung terhadap bisnis pertunjukan musik di dalam negeri.

"Pastinya impact-nya (dampaknya) ada, tapi balik lagi kita selalu melihatnya sebagai tantangan bagaimana kita kemudian menavigasi situasi ini supaya tetap bisa mendatangkan artis, tetap bisa menyelenggarakan konser, dan tidak membebani konsumen dengan beban yang sebenarnya tidak perlu," kata Harry Sudarma, Co-Founder & COO PK Entertainment Group.

Pihak promotor menilai tantangan ini harus disiasati secara bijak demi menjaga ekosistem dunia hiburan dan industri musik di Tanah Air agar tetap bergerak maju.

Terkait keluhan masyarakat mengenai tren kenaikan harga tiket konser dalam beberapa tahun terakhir, ia meluruskan bahwa nominal tersebut tidak ditetapkan secara sepihak oleh promotor lokal.

"Apapun yang kita announce atau putuskan, itu tidak pernah tanpa approval dari regional promoter, artist management, maupun artisnya sendiri," ujar Harry Sudarma, Co-Founder & COO PK Entertainment Group.

Menurutnya, manajemen musisi internasional umumnya menetapkan standar batas harga tersendiri untuk setiap kawasan, sehingga tarif di Indonesia sebenarnya setara dengan negara-negara di Asia Tenggara.

Perbedaan daya beli masyarakat, upah minimum, serta Gross Domestic Product (GDP) yang membuat harga tiket terasa lebih berat bagi sebagian konsumen di Indonesia dibandingkan negara tetangga.

Komponen penentu harga lainnya meliputi biaya mendatangkan artis, ongkos produksi panggung, hingga konsep acara, di mana genre tertentu seperti hip-hop membutuhkan anggaran produksi yang jauh lebih masif.

"Semua variabel itu menjadi bagian dari perhitungan. Pada akhirnya, sebagai business unit tentu ada elemen profit oriented, tapi semua keputusan tetap melalui persetujuan seluruh pihak yang terlibat, termasuk manajemen artis," jelas Harry Sudarma, Co-Founder & COO PK Entertainment Group.

Kendati situasi perekonomian global belum sepenuhnya stabil, potensi pasar industri pertunjukan musik di Indonesia dinilai masih sangat menjanjikan dengan proyeksi nilai mencapai US$168 juta atau berkisar Rp2,8 triliun.

"Dari sisi musik dan konser, hiburan live dan live music itu pendapatannya sangat besar secara global dan sama halnya dengan Indonesia. Kita punya pasar yang potensinya sebesar US$168 juta ," ujar Harry Sudarma, Co-Founder & COO PK Entertainment Group.

Pertumbuhan sektor hiburan di Indonesia tercatat mengungguli rata-rata global dengan kenaikan sekitar 10 persen secara year-on-year sepanjang periode tahun 2024 hingga 2026.

"Rata-rata globalnya ada di 2,5 sampai 5%. Jadi sebetulnya industri ini masih terus berkembang meski perekonomian secara umum melemah," tutur Harry Sudarma, Co-Founder & COO PK Entertainment Group.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author