Program Makan Bergizi Gratis Jangkau 62 Juta Penerima
Badan Komunikasi Pemerintah RI melaporkan program Makan Bergizi Gratis telah menjangkau 62,4 juta jiwa di seluruh Indonesia guna memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat, dilansir dari Detik Health pada Minggu (24/5/2026).
Cakupan program berskala nasional ini menyasar berbagai kelompok prioritas mulai dari pelajar, anak balita, santri, hingga ibu hamil dan menyusui.
Badan Komunikasi RI merinci bahwa kelompok siswa sekolah menjadi penerima manfaat paling dominan dalam realisasi program pemenuhan gizi tersebut.
"Dari total penerima manfaat tersebut, kelompok peserta didik menjadi penerima terbesar dengan jumlah mencapai 48.350.393 orang. Angka ini setara dengan 76,1 persen dari total data induk peserta didik sebanyak 63.574.421 jiwa," bunyi keterangan Bakom RI, dikutip Antara, Minggu (24/5/2026).
Data dari Badan Gizi Nasional per Jumat (22/5) mencatat penerima dari sektor balita berada di angka 6.303.775 jiwa atau mencapai 37,7 persen dari total target nasional.
Kelompok ibu menyusui mencakup 2.066.533 orang, sementara kategori ibu hamil menyentuh 868.259 jiwa, dan kelompok santri tercatat sebanyak 644.664 orang.
Operasional program didukung oleh 29.225 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang tersebar di berbagai wilayah sejak resmi berjalan pada 6 Januari 2025.
Sebanyak 8,3 pipis porsi hidangan telah disalurkan ke 374.175 sekolah penerima manfaat dengan melibatkan total 1.285.250 tenaga kerja domestik.
Di sisi lain, Kementerian Keuangan mengumumkan kebijakan penghematan alokasi dana untuk pembiayaan program jaminan pemenuhan gizi tersebut.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan skema efisiensi dana ini dalam konferensi pers APBN KITA di Kantor Kementerian Keuangan.
"Penghematan-penghematan tertentu sesuai ketentuan presiden sehingga dana BGN (Badan Gizi Nasional) bisa dipakai lebih efisien. Nanti ada penghematan lebih lanjut," kata Purbaya, Selasa (19/5/2026).
Realisasi anggaran kini dilaporkan menyentuh Rp 75 triliun dari total keseluruhan pagu anggaran, dengan tingkat efisiensi berkisar pada angka Rp 268 triliun dari proyeksi awal sebesar Rp 335 triliun.