Produsen Teknologi Global Naikkan Harga Perangkat Akibat Krisis Chip AI
Sejumlah raksasa teknologi global mulai mengerek harga perangkat elektronik mereka secara drastis akibat lonjakan biaya komponen krusial yang dipicu oleh perkembangan Kecerdasan Buatan (AI), seperti dilansir dari Detik iNET pada Selasa (30/6/2026).
Perusahaan besar seperti Apple, Microsoft, Valve, hingga Nintendo terpaksa mengubah tren pasar yang biasanya menurunkan harga perangkat lawas seiring berjalannya waktu. Lonjakan harga ini dipicu oleh fenomena "Ramageddon", di mana permintaan chip memori jangka pendek (DRAM) dan jangka panjang (Nand flash) melambung tinggi demi memenuhi kebutuhan pusat data AI.
Eskalasi harga ini tercatat sangat signifikan pada komponen memori populer seperti DDR5. Berdasarkan data Counterpoint Research, komponen RAM 32GB DDR5 untuk PC yang berada di harga USD 94 pada Kuartal III 2025 merangkak naik menjadi USD 127 pada Kuartal IV 2025, lalu melonjak hingga 122 persen menjadi USD 282 pada Kuartal I 2026.
| Produk | Perubahan Harga | Keterangan |
|---|---|---|
| Microsoft (Xbox Series S/X) | Naik minimal USD 100 (sekitar Rp 1,7 juta) | Kenaikan ketiga dalam setahun. Harga kini 30% hingga 40% lebih mahal dibandingkan tahun lalu. |
| Apple (MacBook & iPad) | Naik hampir 20% | Mempengaruhi lini laptop dan tablet. Pengumuman ini sempat membuat harga saham Apple anjlok. |
| Valve (Steam Deck & Steam Machine) | Naik 40% (Deck) | Harga PC gaming baru Steam Machine juga dipatok jauh lebih mahal dari ekspektasi awal akibat mahalnya komponen. |
| Nintendo (Switch 2) | Naik secara global | Kenaikan harga resmi dijadwalkan mulai berlaku pada bulan September mendatang. |
Kepala Analisis Keuangan di firma investasi AJ Bell, Danni Hewson, menjelaskan bahwa perlombaan membangun pusat data AI memicu lonjakan permintaan yang sangat cepat. Kondisi ini membuat pabrikan chip raksasa seperti TSMC dengan leluasa menaikkan harga karena mereka tahu para pelanggan sedang berebut kapasitas produksi.
Selain faktor AI, empat raksasa teknologi AS diproyeksikan menghabiskan ratusan miliar dolar untuk peralatan AI pada tahun 2026. Analis senior teknologi dari RSM UK, James Bull, mencatat bahwa skala pembelian ini membuat manufaktur memprioritaskan pesanan pusat data daripada perangkat konsumen.
"Pada dasarnya, laptop MacBook di meja konsumen saat ini sedang bersaing memperebutkan kepingan DRAM yang sama dengan pusat data yang menggerakkan ChatGPT, dan konsumen sedang kalah," tegas James Bull, Analis Senior Teknologi dari RSM UK.
Tekanan terhadap harga jual komponen ini juga diperparah oleh badai inflasi, masalah ekonomi global, serta kendala logistik akibat perang di Iran dan blokade di Selat Hormuz.