Presiden Vietnam To Lam Agendakan Kunjungan Resmi ke Australia
Pemerintah Australia bersiap menerima kunjungan resmi Presiden Vietnam To Lam selama empat hari mulai hari Minggu. Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengonfirmasi agenda pengetatan hubungan bilateral ini dalam pernyataan resminya pada hari Kamis.
Pertemuan tingkat tinggi ini bakal berfokus pada dialog perdagangan resmi saat To Lam tiba di Canberra pada hari Selasa. Momen tersebut bertepatan dengan malam sensus nasional Australia, sehingga pemimpin Partai Komunis Vietnam itu diwajibkan mengisi formulir sensus sesuai aturan hukum setempat.
Langkah diplomatik ini mempertegas Kemitraan Strategis Komprehensif yang telah ditandatangani kedua negara pada Maret 2024. Kesepakatan tersebut mencakup perluasan kerja sama di sektor pertahanan, keamanan, ekonomi, pendidikan, energi, hingga transformasi digital.
"Saya berharap dapat menyambut Sekretaris Jenderal dan Presiden To Lam ke Australia dan mendiskusikan bagaimana kita dapat memperkuat kerja sama antara kedua negara kita," ujar Anthony Albanese, Perdana Menteri Australia.
Kunjungan ini juga menyoroti populasi sekitar 350.000 warga Australia yang memiliki garis keturunan Vietnam.
"Hubungan Vietnam-Australia didasarkan pada kepercayaan strategis yang mendalam, kepentingan bersama, dan ambisi bersama untuk masa depan wilayah kita," kata Anthony Albanese, Perdana Menteri Australia.
Masa jabatan To Lam di Hanoi dimulai dua bulan setelah penandatanganan kemitraan strategis tersebut, di mana ia terus mendorong upaya perdagangan internasional Vietnam. Pada Februari, ia sempat melawat ke Washington DC untuk bertemu Donald Trump sebagai anggota pendiri Board of Peace.
"Kedua negara kita berbagi ikatan budaya yang mendalam dan sekitar 350.000 warga Australia memiliki warisan Vietnam," tutur Anthony Albanese, Perdana Menteri Australia.
Selain menyambangi Australia, Presiden To Lam dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Selandia Baru untuk melangsungkan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Christopher Luxon di Auckland pada hari Rabu.
"Vietnam adalah salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di Asia dan mitra yang semakin signifikan bagi Selandia Baru," ucap Christopher Luxon, Perdana Menteri Selandia Baru.
Pemerintah Selandia Baru menargetkan perluasan kerja sama dengan Vietnam pada bidang pangan, serat, pendidikan, pariwisata, teknologi, penerbangan, dan investasi.
"Kami ingin membangun pertumbuhan itu di seluruh bidang pangan dan serat, pendidikan, pariwisata, teknologi, penerbangan, dan investasi," ungkap Christopher Luxon, Perdana Menteri Selandia Baru.