Presiden UEFA Boikot Final Piala Dunia 2026 Protes FIFA
Presiden UEFA Aleksander Ceferin memilih tidak menghadiri laga final Piala Dunia 2026 di New Jersey pada Minggu sebagai bentuk protes terhadap serangkaian keputusan yang diambil oleh federasi sepak bola dunia, FIFA. Sikap Ceferin dipicu oleh keputusan komite disiplin FIFA yang membatalkan hukuman larangan bertanding satu laga bagi penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, usai mendapat kartu merah pada laga babak 32 besar tanggal 2 Juli 2026. Langkah FIFA membatalkan sanksi tersebut diambil setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghubungi Presiden FIFA Gianni Infantino untuk meminta peninjauan kembali atas kartu merah Balogun.
Asosiasi sepak bola Eropa merespons keras intervensi politik tersebut dan menilai FIFA telah melanggar batasan integritas dalam kompetisi resmi.
"When the certainty of rules is no longer guaranteed by its guardians, the integrity of the game is at stake and the credibility of a competition is undermined," pukas perwakilan UEFA dalam pernyataan resminya. Pernyataan mendalam juga disampaikan untuk menolak keputusan FIFA yang dianggap mengabaikan prinsip keadilan bertanding.
"unprecedented, incomprehensible and unjustifiable," tegas perwakilan UEFA. Kekecewaan UEFA semakin memuncak setelah organisasi tersebut menilai federasi dunia telah melampaui batas kewenangan yang sepatutnya dijaga dalam olahraga.
"crossed a red line," tambah perwakilan UEFA. Selain kasus Balogun, perselisihan antara UEFA dan FIFA juga dipicu oleh penetapan harga tiket Piala Dunia yang sangat mahal serta kebijakan komersial baru seperti perpanjangan jeda babak pertama menjadi lebih dari 27 menit untuk pertunjukan musik. UEFA menolak menerapkan berbagai aturan baru FIFA tersebut di ajang Liga Champions maupun Piala Eropa, termasuk penggunaan protokol VAR untuk simulasi dan pemberian kartu merah bagi pemain yang menutupi mulut saat berbicara.