Presiden Prabowo Subianto Kenalkan Motor Listrik Cakra NX1
Presiden Prabowo Subianto mengenalkan motor listrik nasional Cakra NX1 untuk pertama kalinya di fasilitas produksi ALVA milik PT Ilectra Motor Group di Cikarang, Jawa Barat, pekan lalu. Model kendaraan roda dua ramah lingkungan tersebut memiliki kemiripan desain yang signifikan dengan motor listrik Alva N3, mulai dari tampilan depan hingga sisi samping bodi.
Perkenalan motor Cakra NX1 yang dipajang di panggung utama peresmian pabrik tersebut menarik perhatian publik, meski rincian spesifikasi resmi dan harga resminya belum diumumkan secara mendetail. Lokasi manufaktur yang berada di pabrik Alva menguatkan dugaan bahwa unit tersebut berbagi platform produksi yang sama. Sebagai pembanding, Alva N3 saat ini dipasarkan seharga Rp16,5 juta dengan skema berlangganan baterai bulanan Rp125 ribu, atau seharga Rp31,5 juta untuk pembelian unit utuh beserta baterainya.
Pengembangan kendaraan listrik nasional ini diselaraskan dengan program pemerintah untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam domestik. Pemerintah secara khusus mendorong pemanfaatan komponen lokal berbasis komoditas unggulan nasional guna memperkuat ekosistem industri manufaktur dalam negeri.
Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia Rosan Perkasa Roeslani menyatakan bahwa pemanfaatan cadangan mineral domestik menjadi kunci utama dalam strategi manufaktur baterai kendaraan listrik nasional.
"Terutama kita lihat baterai untuk listrik nasional ini kita akan dorong secara penuh untuk menggunakan nickel based. Karena nikel kita ketahui bersama 46 persen reserve nikel di dunia itu ada di Indonesia," kata Rosan.
Pernyataan tersebut menegaskan fokus BPI Danantara Indonesia dalam mengoptimalkan kepemilikan 46 persen cadangan nikel dunia milik Indonesia melalui penguasaan teknologi rantai pasok dari hulu ke hilir. Langkah ini diharapkan mampu menopang pasokan komponen baterai berbasis nikel untuk jajaran kendaraan listrik buatan lokal.
Dari sisi teknis kinerjanya, Alva N3 dibekali baterai Next Gen berkapasitas 3,3 kWh dengan penggerak tipe Hub Drive yang menghasilkan tenaga puncak 6,1 PS dan torsi 125 Nm. Motor listrik ini mampu melaju hingga kecepatan maksimum 80 kilometer per jam serta sanggup menempuh jarak hingga 140 kilometer jika memakai dua baterai. Fasilitas pengisian daya meliputi fitur Boost Charge yang mampu mengisi daya baterai dari 10 persen ke 50 persen dalam waktu kurang dari 25 hingga 30 menit melalui Alva Charging Station, atau sekitar empat jam menggunakan pengisian standar 840 watt.
Pasar kendaraan roda dua listrik domestik juga mencatatkan pertumbuhan signifikan yang didorong oleh dinamika harga komoditas global dan biaya operasional. Berdasarkan data RUPS PT Indika Energy Tbk, penjualan motor listrik Alva mengalami peningkatan sebesar 52,9 persen secara tahunan, yakni dari 2.948 unit pada 2024 menjadi 4.508 unit pada 2025.
Chief Executive Officer Alva Purbaja Pantja menjelaskan pencapaian historis perusahaan serta proyeksi pertumbuhan penjualan unit di masa mendatang.
"Yang kita spill selama ini pertumbuhan di tahun lalu, kita bertumbuh sekitaran 50 persen. Itu historical, itu fakta, tahun ini kita berharap pertumbuhannya lebih dari 50 persen, kita berharap mungkin double," kata Purbaja.
Pergeseran tren pembelian juga tercatat pada lini produk entry-level Alva N3 yang penjualannya merangkak naik melampaui seri Cervo. Ekosistem pendukung Alva hingga Juni 2026 mencatat akumulasi jarak tempuh seluruh pengguna mencapai 78 juta kilometer, didukung operasional 490 konektor jaringan Boost Charge yang telah menyalurkan lebih dari 444 ribu kWh energi listrik, serta ketersediaan 120 titik layanan purnajual di 38 kota.
Faktor eksternal seperti fluktuasi harga bahan bakar fosil turut memengaruhi percepatan peralihan konsumen ke kendaraan listrik.
"Kita tahu mengenai harga minyak yang sekarang sedang bergejolak. Jadi dengan itu harga komoditas sepertinya juga lagi trending up," kata Purbaja.
Kenaikan harga minyak bumi dunia turut berdampak pada penyesuaian biaya perawatan dan suku cadang kendaraan konvensional berbasis bahan bakar minyak.
"Itu sudah punya impact buat beberapa harga komoditas minyak, termasuk juga oli, parts juga. Jadi sepertinya hal-hal tersebut mempunyai dampak," tambah Purbaja.