Prabowo Peluncuran Motor Listrik Nasional Di Tengah Lonjakan Kecelakaan

Share

Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan program Motor Listrik Nasional (Molinas) beserta ekosistem pendukungnya di fasilitas produksi Alva PT Ilectra Motor Group, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, guna mengatasi kemacetan dan angka kecelakaan lalu lintas.

Proyek Molinas ini difokuskan untuk memperkuat kemandirian teknologi serta menyediakan transportasi yang terjangkau, sebagaimana dilansir dari Detik Oto. Namun, masalah keselamatan jalan raya masih menjadi tantangan mendesak di tengah dominasi kendaraan roda dua.

Berdasarkan catatan Korlantas Polri dan Road Safety Association (RSA) sepanjang tahun 2025, sebanyak 212.414 unit sepeda motor terlibat kecelakaan lalu lintas. Total kejadian kecelakaan berada di kisaran 141.608 hingga 158.508 kasus dengan merenggut 24.296 korban jiwa.

Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menyoroti besarnya kontribusi sepeda motor terhadap angka kecelakaan nasional.

"Meskipun menguasai lebih dari 80 persen populasi kendaraan terdaftar di Indonesia, dominasi sepeda motor sebagai 'raja jalanan' berbanding lurus dengan tingginya risiko keselamatan. Kendaraan roda dua ini menyumbang 70% hingga 75% dari total kasus kecelakaan lalu lintas nasional," kata Djoko.

Data tersebut menunjukkan bahwa korban kecelakaan didominasi oleh usia muda, di mana kelompok usia 15–24 tahun menyumbang 35%–40% dan usia 25–49 tahun sebesar 30%–35%. Selain faktor keselamatan, kawasan perkotaan kini dihuni oleh 75% hingga 80% sepeda motor yang memperparah kemacetan jalan raya.

Djoko menekankan perlunya pengaturan pola distribusi kendaraan listrik agar tidak menumpuk di area perkotaan.

"Jika distribusi penjualan motor listrik tidak diatur dengan bijak, upaya pemerintah kota mengatasi kemacetan tentu akan sia-sia. Oleh karena itu, distribusi motor listrik perlu diperketat di kawasan perkotaan, tetapi diperluas ke wilayah perdesaan, pulau-pulau kecil, serta daerah penghasil mineral di luar Jawa yang belum menikmati akses kendaraan listrik," katanya.

Pemberian insentif harga berpotensi memicu lonjakan kepemilikan armada pribadi baru tanpa menggeser penggunaan kendaraan lama maupun angkutan umum.

"Pada dasarnya, motor listrik nasional sekadar mengalihkan sumber emisi dari bahan bakar fosil ke energi listrik, tanpa mengurangi volume kemacetan di perkotaan. Solusi utama untuk mengurai kemacetan tetap bertumpu pada penguatan dan elektrifikasi transportasi umum massal," sebutnya.

Meski demikian, keberhasilan program Molinas diyakini sanggup menggeser peta persaingan pasar otomotif domestik jika dikelola dengan strategi yang tepat.

"Program Motor Listrik Nasional berpotensi menjadi titik balik (turning point) bagi industri otomotif Indonesia. Program ini tidak hanya berpeluang mengubah posisi Indonesia dari sekadar pasar konsumen menjadi produsen, tetapi juga berpotensi memecah oligopoli pabrikan konvensional serta menahan laju dominasi merek impor di era elektrifikasi," katanya.

Guna merealisasikan migrasi kendaraan secara intensif, skema intervensi pemerintah memegang peranan krusial bagi pertumbuhan industri ini.

"Insentif pemerintah adalah intervensi wajib dalam fase transisi ini. Insentif tidak hanya berfungsi menurunkan harga agar terjangkau oleh daya beli masyarakat, tetapi juga menjadi instrumen proteksi terarah agar industri kendaraan listrik nasional dapat tumbuh, membangun kemandirian teknologi, dan pada akhirnya mampu berdiri mandiri tanpa bergantung pada subsidi di masa depan," ujarnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author