Ponaryo Astaman Ungkap Alasan Kagumi Legenda Timnas Indonesia Bima Sakti

Share

Mantan gelandang andalan Timnas Indonesia, Ponaryo Astaman, memiliki sosok yang sangat ia idolakan di dunia sepak bola. Sosok tersebut adalah Bima Sakti, yang juga merupakan senior sekaligus mentornya di lapangan hijau.

Kekaguman ini serupa dengan Bambang Pamungkas yang sangat mengidolakan Kurniawan Dwi Yulianto. Keempat nama tersebut kini dikenang sebagai deretan legenda terbaik yang pernah dimiliki oleh Timnas Indonesia.

Seperti dikutip dari Bola, Bima Sakti dan Kurniawan Dwi Yulianto merupakan alumnus PSSI Primavera. Mereka sempat menimba ilmu sepak bola modern di Italia pada medio 1993 hingga 1995.

Kala itu, proyek Primavera sangat fenomenal di tanah air. Tim yang dilatih oleh Danurwindo tersebut diisi oleh talenta-talenta muda berbakat dari berbagai pelosok daerah di Indonesia.

Selain Bima Sakti dan Kurniawan Dwi Yulianto, terdapat nama-nama beken lain dalam generasi tersebut. Mereka adalah Yeyen Tumena, Kurnia Sandy, Supriyono, Alex Pulolo, Anang Ma'ruf, dan Aris Indarto.

Ponaryo Astaman memiliki latar belakang kuat mengapa dirinya menjadikan Bima Sakti sebagai panutan. Keduanya sama-sama berposisi sebagai gelandang tengah dan berasal dari kota yang sama, yaitu Balikpapan.

Pertemuan monumental antara keduanya terjadi pada laga final Divisi Utama Liga Indonesia 1999/2000. Saat itu, Ponaryo Astaman membela PKT Bontang, sedangkan Bima Sakti memperkuat PSM Makassar.

Pertandingan yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 23 Juli 2000 tersebut berakhir dengan skor 2-3 untuk kekalahan PKT Bontang. Setelah laga usai, Ponaryo Astaman langsung menghampiri Bima Sakti untuk bertukar jersey.

Melalui kanal YouTube Bola Bung Binder baru-baru ini, Ponaryo Astaman kembali menceritakan kenangan tersebut. Ia menegaskan rasa kagumnya yang mendalam kepada Bima Sakti yang berusia empat tahun lebih tua darinya.

"Jujur ya, memang idola benar. Karena kita kan sama-sama dari Balikpapan nih," kata Ponaryo Astaman.

"Kebetulan waktu itu saya seangkatan sama adiknya dan satu sekolah. Main di tim Persiba junior ikut Suratin dan lain-lain. Saya sama adiknya itu lama," imbuh kelahiran Balikpapan, Kalimantan Timur, 25 September 1979.

Kekaguman Terhadap Kiprah Bima Sakti

Keberhasilan Bima Sakti menembus program Primavera di Italia membuat Ponaryo Astaman dan rekan-rekannya di Balikpapan merasa sangat takjub. Karier Bima Sakti langsung melesat tajam setelah kembali ke Indonesia hingga dipercaya menjadi kapten tim nasional.

"Bima itu jadi salah satu pemain dan kapten bahkan di tim yang waktu itu lagi top di Indonesia yaitu Primavera. Waktu itu ada Kurniawan Dwi Yulianto, Mas Bima, kemudian juga ada Indriyanto Nugroho".

"Nah, kita waktu itu umurnya beda sekitar tiga atau empat tahun dengan mereka. Kita melihat mereka sebagai idola. Apalagi setelah pulang dari Italia dan main di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Dulu kan namanya masih Stadion Utama Senayan. Nah, itu kita ngelihatnya ke situ. Jadi idola-lah," kata Ponaryo Astaman.

Karier Gemilang Ponaryo Astaman

Selepas membela PKT Bontang, Ponaryo Astaman melanjutkan petualangannya ke sejumlah klub papan atas Indonesia. Ia tercatat pernah memperkuat PSM Makassar, Arema Malang, Persija Jakarta, hingga Sriwijaya FC.

Saat berseragam Sriwijaya FC, ia sukses meraih berbagai trofi prestisius. Gelar tersebut meliputi juara Indonesia Super League 2011/2012, Piala Indonesia 2010, Indonesian Community Shield 2010, serta dua kali trofi Indonesian Inter Island Cup pada 2010 dan 2012.

Di level internasional, Ponaryo Astaman menjadi pilar lini tengah Timnas Indonesia sepanjang tahun 2003 hingga 2013. Ia juga mengikuti jejak sang idola dengan mengemban ban kapten skuad Garuda.

Prestasi yang ia torehkan bersama Tim Merah Putih di antaranya menjadi runner up Piala AFF 2004, runner up Pestabola Merdeka 2006, serta menjuarai Indonesian Independence Cup 2008.

Ponaryo Astaman memutuskan gantung sepatu di Borneo FC pada tahun 2017. Hingga saat ini, ia masih aktif di klub tersebut dengan menjabat sebagai direktur utama atau CEO.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author