Poh Si Teng Produksi Dokumenter Gaza Setelah Kematian Sahabat Jurnalis
Sutradara Poh Si Teng mengambil langkah berani dengan memproduksi dokumenter independen tentang Gaza setelah kematian sahabatnya, jurnalis Samer Abu Daqqa, yang tewas dalam serangan drone Israel pada Desember 2023, dilansir dari Detikcom.
Poh Si Teng meninggalkan jabatan eksekutif di ABC News dan menggunakan seluruh tabungan pribadinya untuk mendanai proyek ini. Ia merasa terpukul oleh kematian rekannya dan kesunyian dari para jurnalis di sekitarnya.
"Ketika yang gugur adalah rekan profesimu, hal itu memukulmu sangat dalam. Saya tinggal di New York dan berada di lingkungan media namun yang saya dapati justru kesunyian senyap dari para jurnalis yang sangat saya hormati. Saya merasa tidak bisa lagi melanjutkan hidup seperti biasa," ujar Teng.
Awalnya bingung menentukan arah cerita, Teng mendapat inspirasi setelah melihat video dari Dr. Mark Perlmutter, ahli bedah Yahudi-Amerika yang mengecam para politisi. Teng menggabungkan kesaksian Perlmutter dengan dua dokter Amerika Serikat lainnya, Dr.
Feroze Sidhwa dan Dr. Thaer Ahmad, yang bertaruh nyawa menyelamatkan anak-anak di Gaza.
Ketiganya juga berani menyuarakan kekejaman yang mereka saksikan ketika kembali ke Amerika Serikat. Teng merancang film ini agar dapat diterima audiens Barat yang biasanya menghindari isu konflik Timur Tengah.
"Saya berpikir, 'Jika saya membuat film tentang jurnalis, saya tidak tahu apakah pesan ini akan sampai.' Lagipula, sebagai mantan eksekutif studio, kami mengamati bagaimana penonton menikmati tayangan, dan saya sangat paham betapa masyarakat Amerika menyukai drama medis," kata Teng menjelaskan alasan judul film tanpa kata "Palestine" atau "Gaza".
Dibuka dengan perdebatan etis antara Teng dan Dr. Perlmutter tentang menampilkan foto korban anak, Teng akhirnya setuju menampilkan gambar tersebut untuk menjaga keaslian realitas konflik.
"Wajah saya tidak terlihat karena kamera mengarah ke Mark, saat itu saya menangis, merasa sangat malu dan bersalah. Namun ini adalah keseimbangan yang sensitif – jika memperlihatkan terlalu banyak akan terkesan berlebihan, tetapi jika terlalu sedikit justru menjadi tidak nyata. Saya sangat bersyukur Mark menegur saya dan menetapkan arahan yang jelas sejak awal produksi," kenang Teng.
Adegan pembuka yang kuat menarik perhatian Hamza Ali, co-founder perusahaan distribusi Watermelon Pictures, yang mendanai film tersebut sejak awal. Teng juga berperan sebagai kamerawan tambahan demi menghemat biaya produksi.
"Itulah tandanya seorang pembuat film sedang tidak punya uang, ketika Anda melihat namanya tertulis di mana-mana pada daftar kredit!" seloroh Teng.
Setelah tayang perdana dan memicu diskusi di Sundance Film Festival, American Doctor mendapat banyak tawaran distribusi. Namun Teng memilih tetap bekerja sama dengan Watermelon Pictures yang mendukungnya sejak awal.
"Anda harus selalu mengingat siapa pihak yang bersedia hadir dan merangkulmu di saat tidak ada satu orang pun yang mau mendekati film ini," tegas Teng.