Mauricio Pochettino Hadapi Tekanan Besar Jelang Laga AS Melawan Belgia
Pelatih tim nasional sepak bola Amerika Serikat Mauricio Pochettino kini memikul tanggung jawab besar untuk membawa timnya mengalahkan Belgia pada laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Seattle Stadium. Pertandingan krusial ini menjadi ujian pembuktian bagi Pochettino yang datang dengan reputasi kelas dunia dan bayaran empat kali lipat dari pendahulunya, Gregg Berhalter, setelah AS tampil impresif sepanjang fase grup. Harapan publik Amerika Serikat melonjak tinggi setelah skuad asuhan Pochettino mencatatkan tiga kemenangan dan membukukan sembilan gol dalam empat pertandingan pertama mereka selama turnamen musim panas ini.
Langkah tim berjuluk The Yanks tersebut semakin diuntungkan oleh keputusan kontroversial FIFA yang membatalkan hukuman kartu merah penyerang utama mereka, Folarin Balogun, sehingga ia dipastikan bisa tampil.
Kendati demikian, Pochettino berupaya meredam tekanan publik yang menuntut adanya warisan prestasi besar dari kehadirannya di kursi kepelatihan tim paman sam. "I think the players are responsible to create the legacy," kata Mauricio Pochettino, Pelatih Timnas AS.
Pria asal Argentina berusia 54 tahun tersebut menilai peran pelatih tidaklah dominan dalam membentuk ikatan emosional serta sejarah baru bersama para pendukung sepak bola di negara tersebut. "I am a small part, because in the end, it’s the players that are creating the emotional relationship with the fans," kata Mauricio Pochettino, Pelatih Timnas AS.
Mantan manajer Paris Saint-Germain dan Chelsea itu tetap optimistis bahwa antusiasme jutaan penggemar baru sepak bola di Amerika Serikat tidak akan pudar begitu saja setelah laga selesai. "Tomorrow, win or not win," kata Mauricio Pochettino, Pelatih Timnas AS. Ia meyakini pondasi perkembangan sepak bola di negara tuan rumah tersebut sudah terbentuk kuat melalui pencapaian performa sejauh ini.
"the legacy is already there," kata Mauricio Pochettino, Pelatih Timnas AS.
Fox Sports melaporkan tantangan Pochettino kini adalah menundukkan generasi tua Belgia di hadapan sekitar 70.000 suporter yang memadati stadion dalam laga yang diprediksi menjadi pertandingan sepak bola paling banyak ditonton dalam sejarah AS.