Pesawat Militer AS Putar Balik Akibat Ancaman Rudal Rusia

Share

Pesawat Angkatan Udara Amerika Serikat jenis C-17 Globemaster berbalik arah menuju Selandia Baru saat terbang ke Antartika pada Selasa akibat peringatan bahaya aktivitas luar angkasa dan potensi peluncuran rudal dari Rusia.

Pesawat bernomor panggil ICE28 tersebut lepas landas dari Christchurch sekitar pukul 09.00 waktu setempat. Namun, penerbangan harus dihentikan dan pesawat kembali dalam waktu kurang dari tiga jam setelah diterbitkannya Notice to Airmen (NOTAM) oleh Otoritas Penerbangan Sipil Selandia Baru (CAA).

Peringatan navigasi itu dikeluarkan setelah CAA menerima pemberitahuan dari perusahaan manajemen lalu lintas udara Rusia mengenai rencana uji coba senjata di kawasan internasional.

"[Kami] diberitahu oleh badan lalu lintas udara Rusia mengenai rencana peluncuran rudal dan potensi bahaya terkait terhadap wilayah udara internasional, di dalam Wilayah Informasi Penerbangan Kelautan (FIR) Selandia Baru," kata CAA di situs webnya.

Tindakan pencegahan di udara ini terjadi di tengah dinamika persaingan militer global yang terus meningkat. Di sektor teknologi, para ilmuwan di Institut Penelitian Dirgantara Guangdong China mengembangkan sistem navigasi berbasis bintang untuk memandu rudal hipersonik agar tetap akurat saat sinyal satelit mengalami gangguan musuh.

Sistem astronomi tersebut memanfaatkan bintang sebagai titik acuan tetap untuk menentukan orientasi target. Langkah ini menambah lapisan perlindungan navigasi agar senjata hipersonik lebih sulit dicegat, meskipun pengembangannya menghadapi tantangan suhu ekstrem dari kecepatan jelajah tinggi.

Di sisi lain, pejabat militer AS menegaskan pentingnya penguatan kemampuan persenjataan untuk menghadapi potensi konflik dengan negara-negara kekuatan besar. Bencana konfrontasi strategis dinilai dapat membawa dampak besar pada peta keamanan dunia.

"Hal itu akan dengan cepat mengarah pada situasi yang penuh tekanan luar biasa, yang pada dasarnya jelas tidak menguntungkan bagi kepentingan kita," kata Colby, pejabat militer AS.

Pemerintah AS berfokus menjalankan rencana modernisasi dan peninjauan pedoman penggunaan senjata untuk memastikan ketersediaan cadangan persenjataan pencegah yang tangguh.

"Ini bukan berarti menghilangkan pilihan bagi presiden. Ini justru menambah pilihan yang kredibel," kata Colby.

Langkah modernisasi kekuatan militer tersebut dinilai menjadi bagian vital dalam menjaga stabilitas serta keunggulan pertahanan negara.

"Hal ini sangat penting; kita tahu ke mana arah tujuan kita…kini saatnya untuk pelaksanaannya," kata Colby.

Sementara itu, dinamika keamanan kawasan Pasifik juga diwarnai dengan pelaksanaan latihan perang gabungan antara AS dan Korea Selatan selama lima hari. Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menegaskan penataan kemitraan militer lintas negara menjadi faktor krusial dalam menghadapi situasi stabilitas pascawar di Asia Timur.

"Di saat Jepang menghadapi lingkungan keamanan yang paling berat dan rumit di era pascaperang, kerja sama antara Jepang, Amerika Serikat, dan Korea Selatan sangat krusial bagi perdamaian dan stabilitas kawasan," kata Koizumi, Menteri Pertahanan Jepang.

Di lain pihak, ancaman pengembangan senjata nuklir dan uji coba rudal oleh Korea Utara turut memicu kekhawatiran dari sekutu AS di wilayah Pasifik.

"Menurut saya, di dunia penuh tantangan yang kita hadapi saat ini… dan ada banyak tantangan, Korea Utara merupakan sumber dari cukup banyak tantangan tersebut," kata Richard Marles, Menteri Pertahanan Australia.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author