Perusahaan Antariksa Swasta Berlomba Kembangkan Teknologi Pembersih Sampah Orbit Bumi
Perlombaan ruang angkasa kini bergeser pada upaya pembersihan orbit Bumi dari ribuan ton sampah antariksa. Banyak perusahaan swasta mulai bersaing menjadi penyedia jasa pembersihan sisa-sisa teknologi di luar angkasa tersebut.
Dikutip dari Detik iNET, lonjakan jumlah peluncuran satelit beberapa tahun terakhir memicu kepadatan di orbit Bumi. Kondisi ini meningkatkan risiko tabrakan yang membahayakan aset-aset antariksa aktif.
Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mencatat ada lebih dari 100 juta serpihan sampah berukuran di atas 1 milimeter. Total bobot seluruh sampah tersebut diperkirakan mencapai 6.000 ton.
Kecepatan gerak serpihan sampah ini sangat tinggi, yakni melebihi 27.000 km/jam. Akibatnya, partikel sekecil serpihan cat pun tetap memiliki daya rusak yang besar terhadap satelit aktif.
Dr. Chiranjeevi Phanindra selaku pendiri dan CEO Cosmoserve Space menjelaskan bahwa peluncuran objek ke luar angkasa mengalami kenaikan yang sangat tajam.
"Selama tujuh dekade terakhir kita telah meluncurkan sekitar 20.000 objek ke luar angkasa. Kini kita berbicara tentang kemungkinan meluncurkan hingga satu juta satelit hanya dalam 10 tahun ke depan," ujar Phanindra seperti dikutip dari New York Post, Jumat (10/7/2026).
Pemerintah sebelumnya menjadi pihak utama yang mengurusi persoalan sampah ini. Namun, Federal Communications Commission (FCC) Amerika Serikat menerapkan aturan baru yang mulai berlaku pada tahun 2027.
Regulasi tersebut mewajibkan para operator memindahkan satelit mati dari orbit rendah maksimal lima tahun setelah masa operasinya habis. Batas waktu ini jauh lebih ketat dari aturan lama yang mencapai 25 tahun.
Kebijakan baru ini menciptakan peluang komersial besar bagi industri swasta. Phanindra memproyeksikan nilai pasar dari bisnis pembersihan ruang angkasa ini bisa menyentuh USD 8 miliar atau setara Rp 144 triliun.
Sejumlah korporasi menawarkan metode pembersihan yang bervariasi. Cosmoserve Space memilih mengembangkan lengan robot lunak dengan mekanisme jepit mirip tanaman Venus flytrap untuk menarik sampah.
Di sisi lain, perusahaan bernama KMI merancang teknologi penangkap objek luar angkasa tanpa memerlukan adaptor khusus. Sistem pembersih ini bahkan telah diuji coba di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Metode lain yang turut dikembangkan oleh pelaku industri meliputi penggunaan jaring raksasa. Ada pula opsi penyemprotan gas ke target untuk memperlambat kecepatan objek agar jatuh dan terbakar di atmosfer.
Menurut Adam Kall selaku pendiri KMI, pemanfaatan teknologi pembersih ini sebenarnya mencakup ranah yang jauh lebih luas dari sekadar menyapu sampah.
"Ketika kami berbicara tentang pembersihan sampah, sebenarnya kami sedang membicarakan logistik di luar angkasa," kata Kall.
Kall menjabarkan bahwa sistem pertukaran posisi ini bisa diaplikasikan untuk reposisi satelit aktif. Kegunaan lainnya meliputi distribusi material ke pabrik orbit hingga mendukung proyek konstruksi makro di luar angkasa.
"Saya pikir masa depan ada pada konstruksi di luar angkasa. Jika kita bisa meluncurkan tiga bagian pesawat antariksa lalu menyatukannya di orbit, kita akan memiliki kemampuan yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya," ujarnya.
Sektor pembersihan sampah diprediksi menjadi fondasi utama ekonomi luar angkasa di masa depan. Perusahaan yang sukses menguasai teknologi ini lebih awal berpotensi memimpin pasar industri antariksa baru.