Perjuangan Hidup dan Sisi Kelam Franco Baresi Terungkap

Share

Selain mencatatkan rekor gemilang di lapangan, mendiang legenda sepak bola Italia Franco Baresi menyimpan kisah perjuangan melawan penyakit berat dan kebangkrutan finansial di akhir hayatnya. Mantan bek AC Milan tersebut tutup usia pada umur 66 tahun setelah berjuang melawan penyakit nodul paru-paru, dilansir dari achmadnurhidayat.id.

Setahun sebelum wafat, Baresi sempat menjalani operasi pengangkatan nodul paru-paru dan menjalani perawatan di rumah sakit Humanitas Rozzano dekat Milan. Penampilan publik terakhirnya tercatat pada Februari 2026 saat ia membawa obor Olimpiade Milano Cortina 2026 bersama Beppe Bergomi.

Di balik kesuksesan mengoleksi enam gelar Serie A dan tiga Piala Champions, Baresi juga harus menghadapi kegagalan bisnis pascapensiun. Investasi di sektor properti dan pakaian yang dibangung menderita kerugian besar, ditambah dengan kejatuhan bank Credieuronord pada awal 2000-an yang menguras asetnya.

Masalah finansial Baresi berlanjut pada rentang tahun 2005 ketika ia dan keluarganya terseret kasus hukum penipuan serta pencucian mobil mewah. Terkait kasus penipuan karya seni pada Agustus 2005, ia memilih opsi damai dengan membayar denda sebesar 5.900 euro yang mengonversi hukuman tiga bulan penjara.

Guna membantu menstabilkan kehidupan finansial sang legenda, manajemen AC Milan terus memberikannya posisi strategis, mulai dari pelatih tim muda hingga wakil presiden kehormatan. Dukungan ini lahir dari hubungan emosional yang erat antara Baresi dan mantan Presiden AC Milan, Silvio Berlusconi.

Baresi sempat membagikan refleksi mendalam mengenai hubungan dan warisan mendiang Berlusconi melalui buku terakhirnya yang berjudul 'Ancora in gioco', seperti dilansir dari publika.id.

"Keagungan sejati tidak terletak pada bagaimana kita mengukur waktu – jam tangan seharga sepuluh euro menunjukkan waktu yang sama dengan jam tangan seharga sepuluh ribu – melainkan pada ruang yang kita ciptakan… Saya merasa terhibur mengetahui bahwa saya telah meninggalkan jejak di mana waktu tidak akan pernah bisa mencapainya," kata Franco Baresi, mantan Kapten AC Milan.

Baresi juga mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam atas kepergian pemilik klub yang melatih mental pemenang dalam kariernya.

"Tanpa dia saya merasa lebih kesepian," kata Franco Baresi, mantan Kapten AC Milan.

Baresi menganggap sang presiden bukan hanya sebagai pimpinan klub, melainkan sosok penuntun dalam kehidupan pribadinya.

"Silvio Berlusconi unik dan penuh kasih sayang kepada semua orang. Bagi saya dia seperti seorang ayah: dia mewujudkan semua impian saya dan menyampaikan mentalitas pemenangnya kepada kita semua para pemain, mereka dari sepak bola era lain," kata Franco Baresi, mantan Kapten AC Milan.

Kedekatan tersebut dibuktikan dengan pemberian hadiah istimewa berupa replika asli trofi Ballon d'Or 1989 dari Berlusconi, meski Baresi kala itu secara resmi menduduki peringkat kedua.

"Sebaliknya saya bermain lebih awal juga dalam hal ini," kata Franco Baresi, mantan Kapten AC Milan.

Ia pun mengenang kembali pencapaian kolektif timnya pada penghargaan individu bergengsi tersebut.

"Dalam edisi Ballon d'Or 1989 saya berada di urutan kedua di belakang Van Basten dan di depan Rijkaard, podiumnya semua pemain Milan. Namun pada kesempatan itu Presiden Berlusconi memberi saya versi asli Ballon d'Or," kata Franco Baresi, mantan Kapten AC Milan.

Meski terpaan masalah finansial dan hukum sempat menguji kehidupannya, Baresi tetap dikenang publik Italia sebagai figur penuh martabat dan etika kerja tinggi di dunia sepak bola internasional.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author