Pep Guardiola Putuskan Mundur dari Kursi Pelatih Manchester City
Manajer Pep Guardiola resmi mengumumkan keputusan untuk menyudahi masa baktinya di Manchester City pada akhir musim ini, Jumat (22/5/2026).
Kepastian tersebut dilansir dari Bola, yang menyebutkan bahwa pertandingan kontra Aston Villa pada Minggu (24/5/2026) bakal menjadi laga pamungkas bagi juru taktik asal Spanyol itu.
Meskipun masa kontraknya bersama tim berjuluk The Citizens masih tersisa hingga tahun 2028, pria berusia 55 tahun ini memilih untuk menyudahi komitmennya lebih awal.
Pengumuman perpisahan ini disampaikan oleh sang pelatih melalui sebuah rekaman video yang disiarkan lewat akun media sosial resmi milik klub.
“Ketika saya datang, wawancara pertama saya adalah bersama Noel Gallagher. Saya keluar sambil berpikir, ‘Oke, Noel ada di sini, ini pasti akan menyenangkan.’ Dan memang luar biasa perjalanan yang kami lalui bersama," tutur Guardiola.
Pria yang mulai menukangi Manchester City sejak tahun 2016 itu menegaskan bahwa keputusannya untuk menyudahi kebersamaan ini murni didasarkan atas intuisi pribadinya.
“Jangan tanyakan alasan saya pergi. Tidak ada alasan khusus. Tetapi jauh di dalam hati saya, saya tahu ini waktunya." ujar Guardiola.
Ia pun menyampaikan rasa terima kasih dan penghormatan setinggi-tingginya kepada segenap elemen pendukung tim yang selalu setia menemani perjalanannya selama satu dekade di Inggris.
“Tidak ada yang abadi. Jika ada yang abadi, maka itu akan tetap ada di sini. Yang akan abadi adalah perasaan, orang-orangnya, kenangan, dan cinta saya kepada Manchester City." kata Guardiola.
Kesetiaan para suporter dinilai menjadi salah satu pilar kekuatan terbesar, termasuk momen emosional saat ia harus kehilangan sang ibu di tengah situasi pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.
“Kami bekerja, kami menderita, kami berjuang dan kami melakukan semuanya dengan cara kami sendiri. Kerja keras hadir dalam banyak bentuk. Perjalanan ke Bournemouth ketika kami kehilangan gelar Premier League dan kalian tetap ada di sana. Perjalanan ke Istanbul dan kalian juga ada di sana." ucap Guardiola.
Dukungan masif dari seluruh warga kota dan jajaran staf klub diakui memberikan dampak besar bagi kesehatan mentalnya melewati masa-masa sulit.
“Saya ingat kehilangan ibu saya saat pandemi Covid dan merasakan klub ini membantu saya melewati masa itu. Para suporter, staf, dan warga Manchester memberi saya kekuatan ketika saya sangat membutuhkannya," tutur Guardiola.
Selain pesan emosional kepada publik Etihad, arsitek tim legendaris tersebut memberikan wejangan khusus kepada seluruh jajaran pemain yang telah berjuang bersamanya.
“Para pemain, jangan pernah lupakan, setiap detik, setiap momen, saya, staf saya, klub ini, semua yang kami lakukan, kami lakukan untuk kalian semua. Dan kalian benar-benar luar biasa," cetus Guardiola.
Ia mengklaim para penggawa Manchester City saat ini telah mengukir sebuah sejarah emas yang tidak akan mudah dilupakan di masa mendatang.
“Kalian mungkin belum menyadarinya sekarang, tetapi kalian meninggalkan warisan besar. Jadi ketika masa saya berakhir, berbahagialah. Oasis kembali lagi!" kata Guardiola.
Ungkapan penutup disampaikan sebagai bentuk apresiasi kepada Noel Gallagher dan seluruh fan yang menaruh kepercayaan tinggi terhadap kapasitas kepemimpinannya.
“Jadi, hadirin sekalian, terima kasih telah mempercayai saya, terima kasih telah mendorong saya, terima kasih telah mencintai saya. Noel, saya benar. Ini benar-benar sangat menyenangkan. Saya mencintai kalian semua.” ujar Guardiola.
Selama sepuluh tahun kepemimpinannya, mantan arsitek Bayern Munchen ini sukses mempersembahkan total 17 trofi utama ke lemari juara klub, termasuk torehan enam gelar Liga Inggris.
Laga kandang terakhir mendatang diprediksi menjadi momen perpisahan emosional bagi pendukung, yang juga akan melepas kepergian dua pemain senior yakni Bernardo Silva dan John Stones.
Pihak manajemen klub dilaporkan tengah membidik mantan asisten pelatih City, Enzo Maresca, sebagai kandidat kuat yang akan ditunjuk untuk mengisi kursi kosong yang ditinggalkan Guardiola.