Pep Guardiola Enggan Terima Penghormatan Permanen dari Manchester City
Manajer Manchester City, Pep Guardiola, secara tersirat tidak mengharapkan penghormatan permanen apa pun pada laga terakhirnya sebagai manajer The Sky Blues. Momen tersebut akan berlangsung saat melawan Aston Villa pada Minggu (24/5/2026).
Seperti dikutip dari Bola, pelatih asal Catalunya ini lebih mementingkan menyimpan kenangan dari karier luar biasanya bersama Manchester City. Dirinya tidak terlalu memikirkan untuk mendapatkan penghormatan abadi di Etihad Stadium.
Media-media Inggris melaporkan bahwa Guardiola akan meninggalkan Manchester City pada akhir musim ini. Keputusan tersebut dikabarkan telah dibuat meskipun kontraknya di Etihad baru akan berakhir pada musim panas 2027.
Enzo Maresca dikabarkan akan menjadi penggantinya di kursi kepelatihan. Namun, sejauh ini pihak Manchester City maupun Pep Guardiola belum memberikan tanggapan mengenai kabar menghebohkan tersebut.
Manchester City sendiri dijadwalkan membuka tribune North Stand yang telah diperluas saat menjamu Villa. Sejumlah suporter menaruh harapan agar tribun tersebut diberi nama Guardiola.
Sebelumnya, Guardiola membutuhkan kemenangan atas Bournemouth pada Rabu (20/5/2026) dini hari WIB. Hasil maksimal itu diperlukan demi memberi tekanan kepada Arsenal menjelang pekan terakhir Liga Inggris.
Pelatih sukses ini merasa bahwa momen-momen pribadi akan jauh lebih bertahan lama dibanding apa pun yang dinamai untuk menghormatinya. Guardiola juga hingga kini belum secara resmi mengonfirmasi kepergiannya dari klub.
"Ketika Anda sudah tua, Anda bisa melihat kembali kenangan itu," ujar Guardiola, seperti dikutip dari Daily Mail, Selasa (19/5/2026).
"Klub tidak perlu melakukan apa pun, sungguh," kata Guardiola.
"Hal terpenting dalam hidup adalah ketika Anda melihat ke belakang, Anda bisa tersenyum lebar dan berkata, ‘itu luar biasa.’ Bernardo Silva dan John Stones bisa merasakan itu. Kami membicarakannya dalam beberapa hari terakhir. Ketika Anda sudah tua, menjadi seorang kakek, Anda bisa melihat kembali kenangan-kenangan itu. Itulah hal paling penting dalam hidup," imbuh Guardiola.
Pep Guardiola tampaknya lelah terus ditanya tentang kontraknya di Manchester City. Dirinya pun memberikan jawaban tambahan dengan nada sarkastik.
"Apa pun yang terjadi di akhir musim nanti, dan ketika dulu saya memperpanjang kontrak tiga tahun lagi, saya bisa melihat kembali dan berkata, ‘betapa indahnya semua ini?" ujar Guardiola.
"Itu jauh lebih penting daripada hal lainnya. Kebanyakan orang yang menjalani masa ini bersama di sini bisa merasakannya."
Guardiola juga membandingkan perjalanan menuju markas Bournemouth di Vitality Stadium dengan sesuatu yang kurang menyenangkan. Laga itu menjadi pertandingan terakhir bagi pelatih Andoni Iraola.
Bournemouth masih memiliki peluang lolos ke Liga Champions musim depan. Guardiola sangat mewaspadai tim tuan rumah yang belum terkalahkan sejak awal Januari itu.
"Mereka tidak memberi Anda ruang untuk bernapas," tambah Guardiola.
"With 10 days of preparation for this match, I expect a team that is more intense, aggressive, and demanding. And then you have to be smart to read what to do."
"Ini adalah final. Kami memang lelah, ya. Tetapi manusia memiliki kemampuan luar biasa ketika Anda benar-benar, benar-benar kehabisan tenaga, jika pikiran Anda berada di tempat yang tepat, Anda masih bisa melakukan satu sprint tambahan, satu fokus tambahan. Saya sangat yakin dalam dua pertandingan terakhir ini para pemain akan memberikan segalanya."
Akhir Era Emas The Sky Blues
Kepergian Guardiola dipastikan akan menandai berakhirnya era emas bagi kubu Manchester City. Sejak kedatangannya pada 2016, pelatih asal Spanyol tersebut sukses merevolusi gaya bermain tim.
Guardiola juga berhasil membawa klub mencapai level tertinggi yang belum pernah diraih sebelumnya. Selama menangani The Sky Blues, ia telah menyabet total 20 trofi resmi.
Prestasi tersebut meliputi enam gelar Premier League, satu trofi Liga Champions, serta beberapa trofi Piala FA. Ada pula gelar Piala Liga Inggris hingga Piala Dunia Antarklub.
Pengaruh besar Guardiola tidak hanya terbatas pada deretan trofi juara. Filosofi sepak bola menyerang dan dominasi taktiknya sukses membentuk identitas baru bagi klub.
Hal tersebut menjadikan Manchester City sebagai salah satu institusi yang paling dihormati di dunia sepak bola. Pada musim ini, City sebenarnya masih memiliki peluang matematis untuk bersaing memperebutkan gelar Liga Inggris.
Namun, langkah mereka untuk menjadi juara kini sangat bergantung pada Arsenal. Manchester City membutuhkan sang rival agar kehilangan poin di laga tersisa.