Bank Indonesia Beberkan Penyebab Pelemahan Rupiah ke Rp18.000

Share

Bank Indonesia mengungkapkan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar AS akibat sentimen global dari pejabat Federal Reserve. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi sinyal kebijakan moneter ketat serta penguatan indeks dolar AS yang mencapai posisi tertinggi dalam setahun terakhir, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz pada Selasa (7/7/2026).

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa pernyataan dari otoritas bank sentral AS memberikan indikasi kuat mengenai arah suku bunga. Kebijakan suku bunga acuan diperkirakan akan terus dipertahankan dalam posisi tinggi yang kemudian memicu respons penguatan pada indeks dolar.

“Bahwa angka 101 adalah angka tertinggi dalam satu tahun terakhir untuk DXY. Jadi kombinasi signal hawkish pejabat The Fed dan juga diikuti dengan naiknya DXY pada level tertinggi dalam satu tahun terakhir inilah yang membuat nilai tukar sejumlah negara itu melemah terhadap dolar AS,” kata Denny ditemui di Kompleks Parlemen, Selasa (7/7/2026).

Tekanan terhadap mata uang tidak hanya dialami oleh Indonesia melainkan juga dirasakan oleh berbagai negara berkembang lainnya. Berdasarkan data bank sentral, mata uang Rusia mencatatkan penurunan terdalam hingga 5,5 persen, disusul Chili sebesar 4 persen, Baht Thailand 2,3 persen, Won Korea dan Peso Filipina masing-masing 1 persen, Rupee India 0,7 persen, serta Renminbi China sebesar 0,5 persen.

Merespons situasi fluktuasi moneter tersebut, Bank Indonesia memastikan langkah intervensi aktif guna menjaga stabilitas nilai tukar di pasar keuangan domestik maupun global. Otoritas moneter berkomitmen untuk mengoptimalkan seluruh instrumen transaksi yang tersedia demi meredam gejolak pergerakan nilai tukar.

“Bank Indonesia seperti biasa akan all out. Kemudian baik di pasar luar negeri maupun dalam pasar dalam negeri dengan transaksi di pasar spot, di pasar NDF, di pasar DNDF dan juga melakukan komunikasi Intens dengan pelaku pasar,” jelas Denny.

Meski mengalami tekanan eksternal yang cukup kuat, bank sentral menilai performa mata uang Garuda secara umum masih menunjukkan ketahanan yang relatif baik dibandingkan yurisdiksi pasar berkembang lainnya. Koordinasi lintas sektor diharapkan mampu mendorong pemulihan nilai tukar secara bertahap.

“Oleh sebab itu tentunya sinergi dari berbagai pihak itu sangat diperlukan untuk sama-sama membawa rupiah kita menguat terhadap dolar AS,” imbuhnya.

Pada pembukaan perdagangan Selasa (7/7/2026), mata uang rupiah sempat dibuka melemah 0,03 persen ke posisi Rp18.000 per dolar AS sebelum bergerak menguat tipis ke area Rp17.980 per dolar AS pada pukul 09:23 WIB. Fluktuasi ini melanjutkan pergerakan dinamis dari awal pekan yang sempat mencatatkan level terendah intraday di Rp18.006 per dolar AS.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author