PLN Catat Penurunan Laba Bersih Menjadi Rp7,26 Triliun pada 2025
PT PLN (Persero) membukukan penurunan laba bersih tahun berjalan sebesar 65,8 persen menjadi Rp7,26 triliun pada Tahun Buku 2025 dari sebelumnya Rp21,23 triliun pada 2024. Penurunan ini dipicu oleh pembengkakan beban usaha dan kerugian selisih kurs akibat pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS, berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Rintis, Jumadi, Rianto & Rekan (PwC) yang dirilis pada Selasa (2/6/2026).
Kinerja keuangan BUMN listrik tersebut tertekan oleh kenaikan total beban usaha sebesar 10,04 persen yang mencapai Rp533,45 triliun, dilansir dari Bloomberg Technoz. Sektor bahan bakar dan pelumas menyumbang lonjakan biaya terbesar yakni mencapai Rp198,61 triliun, atau naik 10,78 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya sebesar Rp179,29 triliun.
Selain itu, PLN mencatat kenaikan pengeluaran untuk pembelian tenaga listrik dari pihak swasta atau independent power producer (IPP) sebesar 9,28 persen menjadi Rp195,21 triliun. Beban pemeliharaan juga meningkat 13,28 persen ke angka Rp35,74 triliun, disusul kenaikan beban kepegawaian sebesar 17,3 persen menjadi Rp36 triliun serta biaya sewa yang naik menjadi Rp2,83 triliun.
Faktor non-operasional turut memperparah penurunan profitabilitas akibat volatilitas mata uang asing yang dialami perusahaan pelat merah tersebut. Nilai kerugian selisih kurs bersih melonjak signifikan sebesar 83,79 persen hingga menyentuh angka Rp12,46 triliun dibandingkan posisi tahun 2024 yang berada di angka Rp6,78 triliun.
Pihak manajemen menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar global memang menjadi tantangan utama yang mempengaruhi hasil akhir performa keuangan perseroan pada periode ini. Namun, hasil yang diperoleh dinilai masih menunjukkan performa operasional yang berjalan secara positif di tengah situasi pasar yang tidak menentu.
"Capaian tersebut diraih meskipun perseroan menghadapi tekanan rugi selisih kurs sebesar Rp12,46 triliun akibat volatilitas nilai tukar global," tegas Darmawan Prasodjo, Direktur Utama PLN lewat keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Di sisi lain, total pendapatan usaha perseroan sebenarnya mengalami pertumbuhan sebesar 6,84 persen year on year (yoy) menjadi Rp582,68 triliun. Penjualan tenaga listrik menjadi kontributor utama dengan menyumbang Rp367,08 triliun, didukung realisasi subsidi listrik serta pendapatan kompensasi yang mencapai Rp200,19 triliun.
Volume penjualan listrik PLN tumbuh 3,75 persen menjadi 317,69 terawatt hour (TWh) dengan pertumbuhan daya tersambung pelanggan di angka 192.621 megavolt ampere (MVA). Jumlah pelanggan baru juga bertambah 3,3 juta menjadi 96,2 juta pelanggan, sehingga mendorong pendapatan dari penyambungan naik 28,4 persen ke angka Rp2,24 triliun.