Penjualan Mobil China Mulai Stagnan dan Menurun
Masa keemasan kendaraan asal China dilaporkan mulai menghadapi titik jenuh setelah performa penjualannya cenderung stagnan. Padahal, kendaraan dari negara tersebut sempat memicu persaingan ketat di antara produsen global karena menawarkan harga terjangkau dengan kelengkapan fitur yang melimpah.
Kondisi pasar saat ini menunjukkan tanda-tanda penurunan yang cukup signifikan, seperti dilansir dari Detik Oto. Berdasarkan data hingga April 2026, volume perdagangan mobil baru di China telah mengalami kemerosotan selama tujuh bulan berturut-turut. Angka penjualan tinggi yang sempat dibukukan pada periode sebelumnya kini menjadi target yang sulit untuk dicapai kembali.
Tren pelemahan ini diprediksi masih akan berlanjut pada bulan Mei, dengan proyeksi perlambatan pada segmen kendaraan listrik murni maupun Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV). Situasi tersebut berdampak langsung bagi para produsen yang berfokus penuh pada segmen kendaraan listrik, salah satunya adalah Nio.
Guna mengatasi kelesuan domestik, sejumlah merek besar seperti BYD, Chery, dan SAIC Motor mulai mengalihkan fokus mereka ke pasar luar negeri, sebagaimana dilaporkan Car Expert. Nio sendiri saat ini sedang membidik pasar Australia sebagai destinasi pemasaran produk terbaru mereka.
CEO Nio, William Li, mengungkapkan bahwa pasar internasional memberikan peluang yang lebih besar untuk mendongkrak performa penjualan dibandingkan dengan mengandalkan pasar domestik.
"Bukan lagi pasar yang sedang tumbuh, melainkan pasar yang sudah jenuh," ujar Li saat peluncuran SUV Nio ES9 di Beijing, seperti dilansir dari Reuters.
Langkah para produsen yang kian mengandalkan sektor ekspor memicu proyeksi bahwa China berpotensi menggeser posisi Jepang sebagai negara produsen mobil terbesar di dunia. Bahkan, raksasa otomotif seperti BYD dan Geely telah berhasil menembus daftar 10 besar grup otomotif dengan penjualan terlaris secara global.
Meski demikian, BYD tercatat gagal memenuhi target penjualan total mereka pada tahun 2025 dengan selisih yang mendekati angka 1 juta unit. Sejauh ini, pertumbuhan volume perdagangan paling masif bagi pabrikan tersebut memang ditopang oleh aktivitas pengiriman ke luar negeri.
Saat ini, China menjadi basis bagi ratusan produsen kendaraan, namun hanya sebagian kecil dari pabrikan tersebut yang mampu menghasilkan keuntungan finansial. Destinasi ekspor utama kini tidak lagi terbatas pada Australia, melainkan telah merambah ke Kanada yang menerapkan kebijakan pemangkasan tarif impor untuk kendaraan asal China dalam jumlah terbatas.
Di sisi lain, penerapan kebijakan tarif masuk yang ketat di kawasan Eropa justru memicu respons strategis dari sejumlah pabrikan. Produsen terkemuka seperti Chery dan BYD kini memilih untuk mendirikan fasilitas produksi kendaraan langsung di dalam wilayah Benua Biru tersebut.